Amerika Obati Penderita Epilepsi dengan Ganja

JawaPos.com – Setelah melegalkan ganja, Amerika Serikat (AS) kini menyetujui penggunaan ganja dalam pengobatan. Regulator kesehatan AS telah menyetujui pengobatan epilepsi baru yang diajukan GW Pharmaceuticals pada Senin, (25/6).

Otomatis obat ini menjadi obat berbasis ganja pertama yang berhasil memenangkan persetujuan di AS. Setelah disetujui sebagai obat, maka hal tersebut kemudian membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut mengenai khasiat obat ganja.

Setelah persetujuan tersebut memungkinkan obat dapat digunakan pada pasien yang berusia dua tahun dan lebih tua dengan Dravet Syndrome (DS) serta Sindrom Lennox Gastaut (LGS). Keduanya merupakan bentuk awal epilepsi yang jarang ditemukan dan terjadi pada anak-anak yang paling resisten terhadap pengobatan.

Obat epilepsi yang mengandung ganja (Qartz)

Komisaris Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS, Scott Gottlieb mengatakan, persetujuan tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa memajukan program pengembangan yang benar dengan mengevaluasi bahan aktif yang terkandung dalam ganja dapat berguna bagi terapi medis yang penting.



Salah satu obat yang dibuat di antaranya, Epidiolex terdiri dari cannabidiol (CBD) yang merupakan salah satu dari ratusan molekul yang ditemukan dalam tanaman ganja. Selain itu, mengandung kurang dari 0,1 persen tetrahidrocannabinol (THC) yang merupakan komponen psikoaktif yang membuat orang melayang.

GW Pharma yang memimpin secara global dalam mengembangkan obat-obatan berbasis kanabinoid menumbuhkan pasokan ganja sendiri di rumah kaca khusus di Inggris. Hal itu dilakukan untuk memastikan keseragaman dalam komposisi genetika tanaman yang nantinya akan diolah menjadi larutan cair CBD seperti dilansir Reuters pada Senin, (25/6).

Meskipun penggunaan THC dapat menginduksi paranoia, kecemasan, dan halusinasi. CBD memiliki efek sebaliknya dan disebut sebagai pengobatan potensial bagi masalah kesehatan mental oleh para ilmuwan.

(trz/JPC)