Aliran DAK ”Menguap” sampai Jauh?

MALANG KOTA – Aliran Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Malang Tahun 2011 diduga ”menguap” sampai jauh. Buktinya, hingga hari ketiga pemeriksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah memeriksa 36 saksi untuk mengurai ke mana dan siapa saja yang menerima aliran DAK secara ilegal. Pemeriksaan ini untuk menambah data penguat atas dugaan suap yang dituduhkan terhadap tersangka Bupati Malang Rendra Kresna.

Kemarin misalnya, ada 12 saksi yang dipanggil KPK untuk menjalani pemeriksaan di Mapolres Malang Kota. Selain pemeriksaan, KPK juga melakukan penggeledahan ke rumah dan kantor sejumlah saksi.

Dalam rilis resminya, juru bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, pemeriksaan dilakukan untuk terus menelusuri aliran dana dari tersangka Rendra Kresna. Pihaknya pun memanggil 12 saksi di hari ketiga pemeriksaan (28/11), meski dua hari sebelumnya, sejumlah saksi juga dilakukan pemeriksaan.

Mereka yang masuk dalam daftar yang diperiksa antara lain Kabid Pembangunan dan Peningkatan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) Irianto, Direktur PT ACA Iwan Kurniawan, Staf Administrasi dan Keuangan PT ACA Rizka Ayu Novita Sari, Kabid Fasilitas Jalan PUBM Heri Soejadi. Juga Bendahara Bidang Fasilitas Jalan PUBM Siti Munawati, Kabid Bina Teknik PUBM Sabarudin, Bendahara PUBM Dewi Setyaningtyas. Ada pula bos Duta Catering Suhardjito, Direktur CV Usaha Mandiri Soegiono, karyawan swasta Sumarsito, Direktur PD Jasa Yasa Chairul Anam, dan Kepala Dinas Kesehatan Ratih Maharani. Hanya saja, Iwan Kurniawan tidak terlihat hadir dalam pemeriksaan di Polres Malang Kota. ”Kami terus mendalami proyek terkait dugaan penerimaan uang suap dan gratifikasi terhadap tersangka RK (Rendra Kresna),” kata Febri.

Dia membenarkan jika pemeriksaan yang dilakukan di Polres Malang Kota masih soal aliran DAK 2011. Hanya saja, sejumlah saksi yang datang diperiksa memilih bungkam dan menghindari wartawan. Jika memberikan keterangan pun, hanya seadanya. Seperti Direktur CV Usaha Mandiri Soegijono, dia hanya menyatakan dirinya banyak diberi pertanyaan oleh penyidik KPK. ”Ya banyak ditanya,” ujarnya menyudahi wawancara.

Pemilik Duta Catering Suhardjito pun tak banyak memberi keterangan. ”Nanti saja ya,” kata Suhardjito saat dimintai keterangan lalu menghindar.

Bendahara PUBM Dewi Setyaningtyas yang keluar pemeriksaan pukul 14.00 siang enggan memberikan keterangan. Bahkan wanita tersebut merasa tak nyaman dikejar-kejar wartawan. ”No comment, no comment,” ucapnya.

Dia kemudian berjalan seraya menyembunyikan wajahnya dengan buku tebal. Dewi berputar-putar di parkiran mobil dan tidak menemukan jalan keluar. Sambil dikejar wartawan untuk meminta keterangan, dia akhirnya kembali ke jalan awal. Baru kemudian pergi terbirit-birit menghindari awak media. ”Iya terkait aliran dana itu,” singkatnya sambil berjalan cepat.

Begitu juga Kabid Bina Teknik PUBM Sabarudin yang keluar pemeriksaan pukul 17.40. Hanya tersenyum tanpa memberikan keterangan. Dia menyatakan, dirinya banyak ditanya oleh penyidik soal profil saja. ”Ya banyak, nama siapa, alamat di mana,” ujarnya lalu pergi.

Di sela pemeriksaan kemarin, dua tim dari KPK pergi secara bergantian. Diduga kuat selain pemeriksaan di Polres Malang Kota, pihaknya juga melakukan penggeledahan di dua tempat berbeda. Tempat yang dimaksud yaitu rumah atau perkantoran milik terperiksa kemarin. Hanya saja, KPK yang dimintai keterangan tidak memberi respons.

Sementara pada pemeriksaan sehari sebelumnya, Selasa (27/11), KPK juga mendalami aliran dana DAK dari 1 disc yang berisi dokumen lengkap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2010–2018 Kabupaten Malang. Satu disc berita muatan APBD lengkap (2010–2018) dihadirkan saksi Kepala BPKAD Kabupaten Malang Willem Petrus Salamena. Dia diperiksa penyidik KPK bersama belasan saksi lain di Polres Malang Kota.

Pemeriksaan yang dimulai sejak pukul 09.00 pagi dihadiri ASN, rekanan, atau kontraktor, dan swasta. Mereka Direktur Utama CV Adikersa Adik Dwi Putranto, wiraswasta Arief Soebianto, Direktur CV Bakti Dwi Tunggal Sudarso, Direktur PT Nyata Grafika Media (Jawa Pos Grup) Mashud Yunasa. Juga ada Komisaris Utama PT Intan Pariwara Chris Harijanto (Direktur PT Intan Pariwara 2002–2016), mantan anggota DPRD Kabupaten Malang Abdul Rahman, Sekpri Bupati Malang Budiono, Didit (ajudan bupati), dan Puguh (ajudan). Pihak yang ikut dipanggil yakni GM PT Araya Bumi Megah Nurhidayat Prima Hartono, Direktur CV Prasetyo Prasetyo, wiraswasta Arie Cahyono, mantan kadisdik Kabupaten Malang Edi Suhartono, Direktur CV Karya Mandiri Hari Mulyanto, dan pemilik CV Kartika Fajar Utama Choiriyah.

Rekanan H Zaini yang diperiksa mulai pukul 11.00 siang, sempat memberikan keterangan saat jeda salat Duhur. Dia menyatakan dirinya diperiksa untuk yang ketiga kalinya. Namun, materi pemeriksaan masih sama seperti sebelumnya. ”Ya soal aliran DAK 2011,” ujarnya.

Ditanya aliran dana yang lain, Zaini menjawab tidak ada. Patut diduga, semua terperiksa juga dimintai keterangan soal aliran DAK 2011 tersebut.  Yaitu soal aliran dana pengadaan buku di dinas pendidikan dengan nominal Rp 8,8 miliar. ”Kan CV Sawunggaling menang (tender buku), uangnya cair. Ya saya langsung transfer ke Ali Murtopo (kini tersangka),” jelasnya.

Bukti transfer tersebut, oleh Zaini sudah diserahkan ke KPK. Pengusaha asal Dampit itu menyebut, dirinya hanya ditanyakan soal urusannya dengan Ali Murtopo. ”Pemeriksaan ini ya urusan saya dengan Ali Murtopo,” tegasnya. Dia mengatakan jika dirinya datang pemeriksaan karena ditelepon penyidik KPK.

Begitu juga mantan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Edi Suhartono enggan memberikan keterangan detail. Dosen Universitas Negeri Malang (UM) tersebut diperiksa hampir 7 jam. Dari pukul 10.00–16.40. ”Wawancara di rumah atau ke kampus saja,” ucapnya.

Sementara Willem, pemeriksaannya terbilang singkat. Sekitar satu jam dari pukul 16.30–17.30. Dia diminta membawa dokumen dalam disc yang isinya APBD 2010–2018 lengkap. ”Itu data lengkap seluruh OPD,” bebernya.

Disc yang diserahkan Willem tersebut kini dalam penyitaan KPK. Willem banyak ditanya dan diminta menguraikan apa yang tertulis dalam data di disc itu. ”Ya ditanya, benar ndak yang kamu tulis ini,” tandasnya. Namun, dia melanjutkan, penunjukan langsung (PL), lelang sederhana (LS), dan lelang umum tidak terdata di disc tersebut. ”Tapi PL, LS, dan Lelang Umum semua ada di masing-masing dinas. Tidak di disc,” terang Willem.

 

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Darmono