Aku Hanya Ingin Pergi ke Kebun

Salah satu wisatawan selfie di area taman baru Selecta.

Dipandanginya bintang-bintang di angkasa. Berkelap-kelip. Seperti mutiara yang ditaburkan di atas permadani. Tubuhnya berbaring di atas galengan. Tidak cukup besar. Beberapa bagian punggungnya terganjal tanah yang lebih menonjol dari yang lainnya. Sangat tidak nyaman, sebenarnya. Tetapi menatap kerlip bintang membuatnya sedikit lebih tenang. Dan Midun tak memusingkan punggungnya yang tak tersangga sempurna.

Napasnya sekarang lebih teratur. Ia diam. Berusaha tak memikirkan apa pun. Berada di kebun ini membuatnya lebih tenteram. Bagaimanapun, sekarang Midun sendirian. Beberapa saat yang lalu ia pergi dari warung milik Lastri. Menyakitkan ketika orang-orang di warung secara berjamaah menertawainya. Itu membuat Midun lekas angkat kaki dari sana.

”Heh, Midun, bocah miskin yang ingin mengendarai motor sport,” nada itu jelas penuh cibiran yang menyayat hati. ”Sudahlah, syukuri saja motor butut kakekmu itu. Kau harusnya bersyukur motor itu masih bisa kentut dari knalpotnya. Dan baunya bisa bikin mati sapi satu kandang,”

Kalimat itu membuat seisi warung—hampir semuanya preman kampung yang sedang mabuk—tertawa. Beberapa bahkan tersedak araknya sendiri gara-gara tertawa sambil meneguk minuman keras itu. Dan bagi Midun, itu benar-benar menyakitkan. Tetapi ia hanya diam, sebelum kemudian pergi dari warung jahanam itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Orang-orang kurang ajar di warung itu mengiringi kepergiannya dengan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi, lalu tertawa lagi.

Midun berpikir mungkin ada baiknya kalau ia pergi ke kebun, sebagaimana yang digemari kakeknya, tak peduli gelap telah turun. Tetapi, ia datang ke sana dengan hati dongkol luar biasa. Midun mengumpat di dalam hati selama melangkah ke kebun. Napasnya memburu cepat disulut amarah. Ia kesal, tak jelas kepada siapa. Mungkin pada kenyataan yang harus ia telan, atau kepada preman-preman mabuk yang menertawainya di warung Lastri, atau mungkin juga kepada kakeknya.

Benar memang Midun amat mencintai kakeknya itu. Dulu, sewaktu ia masih bocah dan telah menjadi yatim piatu, bila datang masa-masa susah atau hatinya sedang keruh, Midun akan mengadu kepada kakeknya. Dan kakeknya, laki-laki desa yang memiliki garis hidup berat, akan menasihatinya, menenangkan hatinya sambil mengelus lembut ubun-ubun Midun. Midun amat menyukai itu.

”Orang desa bukanlah orang-orang cengeng, Midun,”

Kata-kata itu adalah kalimat pamungkas setiap Midun mengadu. Sejurus kemudian, Midun akan terlelap di pangkuan kakeknya. Di sanalah Midun mendapatkan kedamaian. Bagi Midun, surga bukan berada di telapak kaki ibu. Tapi, surga berada di pangkuan laki-laki yang kulitnya sudah kendur di sana-sini dan penuh kerutan itu.

Bukan hanya baginya. Midun dapat melihat itu. Kakeknya adalah surga bagi siapa pun di desa ini. Laki-laki itu adalah malaikat. Atau, mungkin malaikat yang kesasar ke bumi. Sadjiwo tak akan ragu menolong siapa pun yang dirasa membutuhkan bantuan. Ia akan mengangkat hasil kebun orang-orang bila tak ada orang lain yang mengangkatnya tanpa mau diberi upah. Ia juga yang akan memikul keranda orang mati, tak peduli bahwa yang mati adalah preman kampung yang paling dibenci sekalipun. Sadjiwo juga akan menyumbangkan uangnya—dan biasanya jumlahnya tak kecil—bila ada warga desa yang terkena musibah, tak peduli bahwa kebutuhan di rumahnya masih setinggi Gunung Semeru.

Sebab kebaikan hatinya, banyak yang menginginkan Sadjiwo menjadi kepala desa. Orang macam ini adalah orang yang pantas menjadi pemimpin; gemar sekali menolong, memiliki kepedulian yang tinggi, dan yang paling merefleksikan ia layaknya malaikat adalah semua kepeduliannya itu tanpa pamrih. Sadjiwo sama sekali tak menginginkan balasan apa pun.

Tetapi Sadjiwo tak tertarik pada jabatan kepala desa. Itu untuk kali pertama Midun sedikit jengkel pada kakeknya.

”Kenapa Kakek tidak mau menjadi kepala desa? Kan enak, Kek. Kakek akan menjadi orang penting dan juga akan mendapatkan uang banyak. Kita bisa hidup lebih sejahtera dari ini,” kata Midun di suatu malam. Pagi hari sebelum itu, beberapa orang yang sudah menjadi tokoh desa selama bertahun-tahun bertandang untuk meminta Sadjiwo menjadi kepala desa.

”Menjadi kepala desa membuat Kakek tak bisa pergi ke kebun, Midun.”

Itulah alasan Sadjiwo. Alasan itu membuat Midun mulai jengkel pada kakeknya. Waktu itu Midun berusia lima belas tahun. Ia jelas tak mengerti kenapa kakeknya tak mau menjadi kepala desa dengan alasan konyol macam itu. Padahal, dengan menjadi kepala desa, kakeknya bisa memiliki banyak uang, dan itu akan memudahkan Midun memiliki gawai bagus. Ia tak perlu lagi pergi ke kebun saban pulang sekolah. Ia akan melepaskan lelahnya dengan memainkan gawai yang harganya jutaan. Ia juga akan punya kesempatan memiliki motor sport, tak masalah walaupun membayarnya dengan cara kredit.

Pada akhirnya, Midun dan kakeknya tetap hidup sebagai orang desa yang sesungguhnya; tak memiliki barang bagus dan terbaru, apalagi motor sport seperti yang ia inginkan setelah melihatnya dalam sebuah sinetron di televisi. Benda berharga di rumah hanyalah televisi cembung itu, yang tak jarang Midun harus memutar-mutar bambu tempat antena dipasang guna mencari sinyal saluran yang jernih. Sesuatu yang paling berharga milik kakeknya barangkali kebun yang ia tiduri saat ini.

Berada di kebun ini membuat Midun teringat pada kakeknya di rumah. Tiba-tiba ada perasaan kesal lagi. Midun teringat tentang kemarin sore. Kenapa pula laki-laki tua itu begitu kolot dengan pikirannya. Kalau saja ia yang ditawari menjadi bupati dan berkesempatan memiliki banyak uang, tanpa ba-bi-bu ia pasti akan menerimanya. Namun kakeknya justru kekeh menolak jadi orang penting dan banyak uang. Kakeknya ngotot ingin hidup miskin seperti ini.

”Kek, kenapa sih Kakek tak mau menerima tawaran menjadi anggota dewan?”

Pertanyaan itu Midun utarakan kemarin sore setelah empat tamu berlalu.

”Kakek kan sudah bilang, menjadi orang penting membuat kakek tak bisa pergi ke kebun, Midun,”

Sebelum itu, empat orang yang tak Midun kenal—dan juga tak dikenal kakeknya—bertamu. Mereka mengendarai mobil hitam bermoncong dengan bodi mengilap. Orang-orang itu berpakaian amat rapi. Kemeja elok membungkus badan mereka. Kakinya tersembunyi di dalam sepatu kulit yang tampaknya seharga satu sapi. Sadjiwo menjamu mereka dengan ramah. Dihidangkannya kopi hitam dalam cangkir yang tak lagi mulus. Kopi itu harus menunggu beberapa lama sebelum diseruput. Orang-orang itu lebih dulu mengutarakan maksud kedatangannya.

Mereka bilang, mereka ingin menjadikan Sadjiwo sebagai bupati sebab Sadjiwo dikenal sebagai orang yang baik bak malaikat. Sadjiwo bertanya dari mana mereka mengetahui tentang dirinya. Katanya, mereka tahu dari mulut orang-orang.

”Maaf, Tuan-Tuan, biasanya mulut orang-orang terlalu melebih-lebihkan,” tutur Sadjiwo.
Saat itu, Midun mengintip dari balik pintu kamarnya. Pendengarannya ia pertajam. Ia mendengarkan setiap kata dari ruang tamu.

”Tapi kami yakin sampean adalah orang yang pantas. Sampean akan mendapatkan banyak dukungan. Sampean pasti menang bila maju dalam pemilihan bupati ini.” ucap salah satu dari empat laki-laki itu.

”Saya takut perjalanan Tuan-Tuan ke sini sia-sia. Sebab saya sama sekali tak memiliki keinginan menjadi pemimpin.” tutur Sajdiwo.

”Bayangkan, sampean akan menolong banyak orang bila menempati posisi itu. Sampean juga akan mendapatkan banyak uang, dan sampean akan tinggal di rumah dinas. Hidup sampean akan lebih baik.”

”Saya menolong orang dengan cara saya sendiri, Tuan. Dan hidup seperti ini sudah sangat baik bagi saya,”

Suasana hening sejenak.

”Memangnya kenapa sampean tak mau?” tanya yang lain kemudian.

”Saya takut ditangkap. Setahu saya, orang yang punya uang banyak sering kali ditangkap,” jawab Sudjiwo.

Jawaban Sadjiwo mengagetkan sepuluh daun telinga yang mendengarnya. Empat laki-laki itu kemudian saling pandang. Tapi, mereka tak menyerah, dan kembali memaksa Sadjiwo untuk maju dalam pemilihan bupati.

Pun begitu Sadjiwo. Ia tetap menolaknya. ”Menjadi orang seperti itu membuat saya tak bisa pergi ke kebun. Saya hanya ingin pergi ke kebun.” katanya.

Empat laki-laki itu akhirnya menyerah, lalu pergi dengan mobil hitamnya. Sementara, Midun segera keluar dari kamarnya dan melayangkan pertanyaan tadi. Midun benar-benar tak mengerti pada alasan kakeknya.

Melihat Midun tampaknya tak puas dengan jawabannya, Sadjiwo berkata lagi, ”Memangnya kamu mau tidak bisa bertemu kakek lagi gara-gara ditangkap setelah jadi bupati?”

Midun ingin melayangkan protes. Tapi ia juga ingin menangis. Karena itu, Midun hanya diam sebelum kemudian pergi ke kamarnya. Ia ingin mengubur hasratnya memiliki motor sport. Ejekan preman-preman mabuk di warung Lastri itu seharusnya tak membuatnya kesal seperti ini. Tapi, kadang-kadang hasrat yang tak tersampaikan membikin hati dongkol dan menyalahkan siapa pun. Midun masih tak tahu kepada siapa kekesalannya tertuju.

Itulah yang membuat Midun memutuskan pergi ke kebun malam-malam. Barangkali, di kebun kakeknya ini ia bisa mengerti, kenapa kakeknya selalu ingin pergi ke kebunnya.

Malang, 18 Oktober 2017

Oleh: Arip Ghe-Oghe – Pegiat sastra dan tinggal di Malang.
Foto: Rubianto