Aktivis Hongkong Minta Bantuan Amerika Serikat

Jawa Pos – Aktivis demokrasi Hongkong Joshua Wong dan bintang kantopop Denise Ho baru menyampaikan pidato di kongres AS Selasa lalu (17/9). Pidato tersebut mendapat aplaus dari legislator Negeri Paman Sam. Dan tentunya, kutukan dari pemerintah Tiongkok.

Di hadapan anggota kongres, pemuda 22 tahun itu menegaskan bahwa demokrasi Hongkong sudah masuk ke titik nadir. Jika negara adidaya seperti AS tidak membantu, bisa jadi warga Hongkong ditindak langsung oleh pemerintah Tiongkok.

Peringatan hari ulang tahun Partai Komunis Tiongkok bulan depan bisa jadi momentum bagi Tiongkok untuk menekan kubu prodemokrasi. Rumor tank Tiongkok yang dikerahkan ke daerah administrasi khusus itu, lanjut Wong, memang hampir tidak mungkin. Tapi, bukan mustahil.

”Seharusnya Beijing tak serakah. Mengambil semua keuntungan ekonomi dari reputasi Hongkong, namun menghapus identitas sosiopolitik kami,” ungkapnya menurut Agence France-Presse.



Belum lagi ancaman yang dibawa Chief Executive Hongkong Carrie Lam. Bisa jadi kebijakan pembatasan kegiatan rakyat dari petahana pro-Beijing itu lebih tega. Misalnya, memblokir akses internet atau sistem transportasi publik.

”Ini bukan permintaan intervensi asing atau kemerdekaan Hongkong. Tapi, permohonan atas hak asasi manusia dan demokrasi,” imbuh Ho.

Permintaan tersebut direspons langsung oleh kongres AS. Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi menyatakan dukungan penuh pembentukan legislasi untuk mendukung unjuk rasa anti pemerintah di Hongkong. Legislasi yang dirancang dengan nama Hong Kong Human Rights and Democracy Act of 2019 itu bakal melalui pemungutan suara secepatnya.

”Kami tentu menyambut baik keputusan pemerintah Hongkong mencabut RUU Ekstradisi. Tapi, semua tahu bahwa itu saja tak akan cukup,” ujar Pelosi menurut South China Morning Post.

Pemerintah Tiongkok tentu saja mengamuk. Jubir Kemenlu Tiongkok Geng Shuang meminta AS untuk berhenti mendukung kelompok radikal dan separatis di Hongkong.