Aktif Ikut Berbagai Lomba, Dapat Penghargaan dari Menpora

Di tengah kesibukannya mengerjakan skripsi, Lutfiya Al-Qarani menyempatkan bertemu dengan wartawan koran ini Selasa malam lalu (7/11) di Perumahan Bukit Permata Hijau Blok C 42 Malang. ”Maaf ya nunggu lama, habis ngerjain skripsi,” ucap mahasiswa semester 9 jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Di tengah kesibukannya mengerjakan skripsi, Lutfiya Al-Qarani menyempatkan bertemu dengan wartawan koran ini Selasa malam lalu (7/11) di Perumahan Bukit Permata Hijau Blok C 42 Malang. ”Maaf ya nunggu lama, habis ngerjain skripsi,” ucap mahasiswa semester 9 jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Setelah saling bersapa dan sedikit bercanda, dia menceritakan berbagai prestasi yang pernah diraihnya. Misalnya, ketika duduk di bangku SMP pada 2009, dia berhasil meraih juara 1 lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional. Kemudian, pada 2012, tepatnya saat duduk di bangku SMA, dia meraih juara 2 Biologi Olympus tingkat provinsi. Di tahun yang sama, dia pun meraih juara 2 tingkat provinsi untuk konseling bahaya merokok.

Kemudian ketika kuliah, dia juga banyak meraih prestasi. Salah satunya menjadi mahasiswa berprestasi yang dipilih oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 2017.

Dia juga pernah menjadi panelis (peserta diskusi panel) termuda dalam Asian Dialogue Innovation and Progress at Yusham Forum di Taiwan pada 2017. Selanjutnya, dia terpilih sebagai Duta Muda ASEAN pada 2017.

Tak hanya itu, Fiya terpilih sebagai duta Program Global Leaders Institute yang diselenggarakan di Thailand, 2016 lalu. ”Pernah juga juara 1 Mahasiswa Berprestasi Tingkat Kopertis VII pada 2015,” ujar mahasiswi asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.



Berikutnya, dia pernah terpilih sebagai delegasi terbaik dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Internasional Pemimpin Pemuda di Filipina pada 2014. Selanjutnya, mewakili Indonesia di kancah internasional sudah sering dia lakukan, hingga ke berbagai negara setiap tahunnya.

Selain itu, Fiya, sapaan akrabnya, juga aktif dalam bidang jurnalistik. Bahkan, gadis ini pernah menjuarai Kompetisi Penulisan Internasional pada 2012. ”Ada 100 nominator Kompetisi Penulisan Internasional dan bukunya juga diterbitkan. Waktu itu, yang ngadain acara Yaman,” jelas mahasiswi yang tinggal di Perumahan Bukit Hijau Blok C 42 ini.

Menurut dia, khusus untuk penghargaan dari Kemenpora, dia awalnya tidak tahu. ”Saya juga nggak ngerasa daftar di Kemenpora sebagai mahasiswa berprestasi, tiba-tiba dapat telepon kalau saya terpilih menjadi mahasiswa berprestasi internasional tanpa diseleksi,” tutur gadis berusia 22 tahun tersebut.

Ternyata, Fiya menambahkan, dia terpilih gara-gara aktif mengikuti perlombaan internasional dan nasional. Sehingga, namanya dikenal di lintas Kementerian.

Dia mengaku, dulu kadang saat melihat Menpora Imam Nahrawi di televisi (TV), dirinya sangat ingin bertemu dan bisa berfoto bersamanya. Inilah salah satu impiannya saat itu. Ternyata, dia benar-benar bisa bertemu dan berfoto bareng Pak Menteri. ”Tuhan luar biasa mengabulkan salah satu impian saya,” ucap Fiya sembari mengingat kejadian tiga minggu silam.

Dia mengungkapkan, saat dihubungi Kemenpora, dirinya sempat tidak percaya dan ragu. ”Awalnya, saya takut kalau orang yang menelepon itu mengaku-ngaku sebagai staf Kemenpora,” ungkap gadis yang suka bermain gitar itu.

Namun, akhirnya dia mencari tahu tentang kebenaran telepon yang diterimanya dari Kemenpora hingga mendapatkan informasi yang konkret dan baru percaya. ”Langsung memberi kabar ke orang tua bahwa saya terpilih menjadi siswa berprestasi internasional dari Kemenpora,” ujar Fiya. Orang tuanya pun tidak ada habisnya mengucap syukur serta selalu mendukung apa pun bentuk kegiatan yang dia ikuti.

Selama ini, dia tidak pernah berpikir untuk bisa menjadi salah satu dari 46 anak Indonesia yang menerima penghargaan dari Kemenpora untuk kategori internasional. ”Penghargaan ini saya dedikasikan untuk Hari Sumpah Pemuda, Indonesia, serta anak-anak muda Indonesia yang masih percaya pada mimpi dan selalu semangat dalam berprestasi serta perjuangan pada jalanya masing-masing,” ungkap Fiya.

Dalam menjalani kesibukannya, dia tidak lupa akan tugasnya sendiri sebagai mahasiswi. Karena itu, dia harus bisa mengimbangi antara mengikuti lomba dan tanggung jawabnya menyusun skripsi. Sebab, ini merupakan tanggung jawab dan kepercayaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Kini, dia sedang membagi waktunya untuk mengerjakan skripsi agar selesai tepat waktu karena sudah terbengkalai satu semester. ”Saya merasa, kuliah di jurusan hubungan internasional yang saya jalani selama ini sangat sinkron dengan kegiatan saya. Sebab, saya langsung bisa menerapkan ilmu diplomasi yang sudah didapat sesuai teori sebelumnya,” pungkas mahasiswi hubungan internasional konsentrasi kawasan Asia Timur ini.

Pewarta: Rezza Doa
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Rezza Doa