Akhmad Ali Suhadi, Ketua Pengurus Koperasi Agro Niaga Jabung

Berkecimpung di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung sudah dilakukan Ali sejak era 1980-an. Kondisi perusahaan yang tengah merosot kala itu, membuatnya berjuang keras. Bagaimana kisahnya?

Akhmad Ali Suhadi adalah manajer kelima KAN Jabung. Dalam kiprahnya, dia sukses memajukan KAN Jabung.

KARIR Akhmad Ali Suhadi di KAN Jabung dimulai pada tahun 1985. Saat itu, koperasi yang berdiri tahun 1979 tersebut tengah terpuruk akibat ulah oknum yang tidak kompeten dalam mengelola organisasi.

”Saat saya masuk, koperasi ini sedang dalam kondisi terbelit utang dan diambang kerugian,” kata Ali saat ditemui di kantornya, Sabtu (15/7).

Selama enam tahun sejak koperasi tersebut didirikan, lembaga yang sebelumnya bernama Koperasi Unit Desa (KUD) Jabung itu telah berganti manajer sebanyak empat kali.

”Saya yang kelima dan saat itu semua warisan utang, berikut tunggakan anggota dan bank yang tidak bisa dibayar,” jelas dia.

”Penyebabnya beragam, ada yang memang tidak menguasai sistem berorganisasi, kepentingan untuk memperkaya diri, bahkan ada yang sampai bunuh diri,” kenangnya.



Berbekal keinginan teguh untuk memperbaiki organisasi, dengan dibantu dua karyawan dan tanpa kantor tetap, dari pintu ke pintu, Ali mulai mengajak para anggota untuk kembali tertib secara administrasi.

Waktu itu, Ali satu-satunya manajer di KUD Jabung sehingga semua tanggung jawab dibebankan padanya. Omongan miring dari orang-orang di sekitarnya yang tidak yakin dengan kemampuannya untuk menata kembali koperasi ”amburadul” tersebut juga menjadi tantangan tersendiri.

”Banyak yang bilang, buat apa saya harus susah payah menghidupi koperasi. Mereka berpendapat, koperasi ini sudah tidak punya harapan, yang saya lakukan akan sia-sia,” terangnya, lalu tersenyum.

Namun, hal itu tidak menjadi alasan baginya untuk menyerah. Ali melihat, kesalahan yang dilakukan oleh manajemen sebelumnya disebabkan karena sumber daya manusia (SDM) pengelola kurang memadai.

”Karena itu, reformasi besar-besaran yang saya lakukan pada saat itu adalah perbaikan mutu SDM,” jelasnya.

Dua tahun berkutat dalam perbaikan organisasi serta mengembalikan kepercayaan anggota, pria kelahiran 21 September 1956 ini akhirnya meraih hasil signifikan. Pada 1987, KUD Jabung dinobatkan sebagai KUD terbaik nasional oleh Kementerian Koperasi.

”Kuncinya harus tertib secara organisasi, laksanakan kewajiban dan berikan hak anggota supaya mereka percaya,” kata dia.

Perbaikan demi perbaikan pun terus dilakukan oleh Ali dengan dibantu para pengurus serta karyawan. Hingga pada 1998, KUD Jabung berubah nama menjadi KAN Jabung.

”Dari situ eksistensi KAN Jabung mulai diakui oleh masyarakat luas, tawaran kerja sama dengan pihak swasta maupun pemerintah mulai berdatangan,” bebernya. ”Kami lihat, itu semua sebagai peluang. Saat itu, saya macak jadi China (meniru cara kerja orang China atau Tiongkok), ada kesempatan sekecil apa pun saya ambil,” tuturnya.

Baru-baru ini, KAN Jabung juga mendapat penghargaan sebagai Koperasi Produsen Terbaik oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI.

Tidak sia-sia, perjuangan Ali membangkitkan kembali KAN Jabung pun berbuah manis. Kini, koperasi produksi yang bergelut dalam bidang sapi perah serta pertanian tebu tersebut telah menggandeng pihak swasta dari dalam maupun luar negeri. Melalui kerja sama dengan non-governmental organization (NGO), KAN Jabung telah dilirik oleh negara-negara asing. Di antaranya, Denmark, Australia, dan Jerman.

”Termasuk untuk perbaikan mutu SDM, kami juga mengirim karyawan untuk belajar ke negara-negara maju seperti Kanada, Jepang, Australia, dan lainnya,” terang Ali.

”Kalau SDM-nya berkualitas, secara otomatis perusahaan juga akan mengikuti,” tukasnya.

KAN Jabung sendiri kini telah memiliki 2.400 anggota aktif yang terdiri dari peternak sapi perah dan petani tebu. Selain pengembangan dari sektor koperasi, KAN Jabung tengah berancang-ancang menyentuh perekonomian masyarakat lewat pendampingan home industry dari sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Pewarta: Farikh Fajarwati
Penyunting: Neny Fitrin
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Farikh Fajarwati