AKBP Asfuri SIK, Kapolres Baru Polres Malang Kota yang Pernah Jadi Polisi Tertangguh

Pernah Gagal Tes di Akmil, Berhasil Damaikan Konflik Antarsuku di Papua

Angkatan Akpol 2000 ini baru kali pertama menjadi Kapolres. Namun, untuk masalah pengalaman, AKBP Asfuri SIK tak bisa diragukan. Dia bahkan dinobatkan sebagai Polisi Tertangguh Polres Metro Jakarta Pusat karena semangatnya memimpin pasukan sebagai kepala Bagian Operasional.

Ini merupakan pengalaman pertama Asfuri datang ke Malang. Saat Jawa Pos Radar Malang ngobrol santai di ruang kerjanya Sabtu lalu (2/12), pria asal Kendal, Jawa Tengah, ini masih terlihat letih setelah serangkaian acara yang dilaluinya. Beberapa jam sebelumnya, dia sibuk mengikiuti segala prosesi untuk menempati jabatan barunya.

Perwira kelahiran 4 April 1977 ini mengaku baru menginjak bumi Arema pada Jumat pagi (1/12). ”Sebelum ke Malang, saya selalu berhadapan dengan panas,” kata mantan kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Metro Jakarta Pusat itu.

Di Malang, Asfuri memang belum merasakan hawa dingin yang sesungguhnya. Namun, dia senang dan antusias mengemban amanah menjadi Kapolres Malang Kota.

Asfuri masih ingat, tugas dinas pertamanya di kepolisian terjadi pada Juni 2001. Saat itu, dia harus berangkat ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang masih diselimuti kerusuhan etnis. Yang paling diingat suami Susi Tri Stafi Yani itu, dia berangkat dari Surabaya dengan menaiki kapal menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lalu, dari Banjarmasin, dia mengambil jalan darat dengan menungganakan bus menuju Palangka Raya.



”Perjalanan saat itu melewati pos-pos yang dikuasai masyarakat Dayak. Ini baru jadi polisi sudah diperiksa masyarakatnya sendiri,” kenangnya sembari tersenyum. Saat itu, konflik antara suku Madura dengan Dayak sedang panas-panasnya.

Di Palangka Raya, Asfuri awalnya menjabat sebagai Kapolsek Kapuas Hilir. Kata dia, saat itu tidak ada hari tanpa konflik. Dari situ kemudian Asfuri banyak belajar bertemu masyarakat dan melakukan persuasi kamtibmas.

Kawasan Kapuas saat itu masih hijau. Hutan-hutan menjadi tempat favorit para pelaku kejahatan beraksi. ”Intensitas kriminalitasnya nanti mungkin beda dengan di Malang,” kata pria yang juga pernah menjabat sebagai Kapolsek Pandih Batu, Polres Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, itu.

Mantan KBO Satreskrim Polres Kapuas ini bercerita kalau dirinya berdinas di Kalimantan selama lima tahun. Sehari-hari dia berurusan dengan banyak kasus illegal loging. Pria yang juga mantan Kasatreskrim Polres Barito Utara ini bahkan menjadi aparat pertama yang membongkar adanya illegal mining atau pertambangan ilegal.

”Kami lakukan penyelidikan dan menurunkan pasukan. Tidak lama, kami temukan adanya illegal mining di wilayah hukum kami,” ujarnya.

Selain di Kalimantan, putra pasangan Munajat-Munjiati itu juga pernah lama dinas di Papua. Dia masuk Papua pada tahun 2007 dan menjabat sebagai Kasatpolair Polres Sorong Kota. Bukannya bebannya semakin ringan setelah hijrah dari Kalimantan, di Papua, tantangan lebih berat justru sudah menunggu Asfuri.

”Di sana itu tempatnya konflik perang suku,” kata mantan Kapolsek Pelabuhan Sorong itu.

Mantan Kapolsek Sentani Kota tesebut lantas bercerita, pada tahun 2013, ada peristiwa besar yang baginya tidak mungkin dilupakan. Saat itu, dirinya menjabat sebagai Wakapolres Jayawijaya. Kabupaten Nduga dulunya merupakan daerah pecahan dari Kabupaten Jayawijaya.

”Ada konflik suku saat itu yang berdampak kepada pemerintahan daerah,” kata mantan Kabag Ops Polres Jayapura itu.

Kabupaten Nduga saat itu dinyatakan waspada dan masuk dalam pengawasan intensif aparat keamanan. Konflik tersebut, kata Asfuri, merembet ke arah saling ”adu jotos” kelompok pendukung bupati Nduga dan kelompok pendukung ketua DPRD Kabupaten Nduga. Setiap hari Asfuri tidak bisa tidur nyenyak demi mengamankan wilayah Nduga.

Konflik Nduga berlangsung berhari-hari. Pertikaian kelompok itu memakan 9 korban jiwa. Pihaknya pun langsung membentuk tim khusus guna menangani kasus itu. Asfuri ditunjuk sebagai Sekretaris Tim 10.

”Tim 10 namanya. Kami tanpa rasa takut harus bertemu dengan dua kelompok tersebut dan melakukan upaya persuasi,” kisahnya.

Meski prosesnya alot, Asfuri dan kawan-kawannya berhasil menuntaskan masalah yang berlangsung hingga tiga bulan itu. ”Sudah menjadi komitmen tim (menyelesaikan konflik), dan kami berhasil menuntaskan konflik tersebut dengan cara adat,” kata anak pertama dari lima bersaudara itu.

Bisa jadi, karena sukses menangani kasus tersebut, Asfuri akhirnya ditarik bertugas di Jakarta Pusat. Perwira dua melati itu kemudian menjadi Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat pada Januari 2017. Tentu, di Jakarta, kata dia, masalah yang menunggu punya ciri khas lain dari tempatnya berdinas sebelumnya.

Apalagi, sebagai Kabag Ops, hampir setiap hari dia memimpin pasukannya mengamankan kawasan sentral pemerintahan seperti Istana Negara, gedung DPR RI, kawasan Monas, dan tempat-tempat lainnya. ”Pernah dalam sehari saya harus move cepat untuk memimpin 12 hingga 15 titik demo,” katanya.

Selain itu, pertimbangan setting pembagian pasukan dan pengimbangan jumlah pasukan, menurutnya, memerlukan konsep yang matang. Perwira yang hanya delapan bulan bertugas di Polres Metro Jakarta Pusat itu berjanji akan menerapkan apa yang dipeloporinya waktu itu di Jakarta. Yaitu, polisi cinta masjid.

”Saya akan terapkan polisi cinta masjid di Kota Malang. Polisi nanti ikut berjamaah dengan warga sekaligus menyampaikan pesan kamtibmas,” tuturnya.

Dari kecil, Asfuri memang sudah bermimpi ingin jadi polisi. Hanya, selepas SMA, muncul keinginan menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia pun mendaftar ke Taruna Akademi Militer (Akmil). Sayang, saat itu dirinya harus menerima kegagalan dalam tesnya.

Meski begitu, Asfuri tetap bersemangat. Dia kemudian kuliah di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Setelah lulus, Asfuri merasa kalau dirinya mampu mengejar cita-citanya sewaktu kecil itu.

Diapun mendaftar di Akademi Kepolisian (Akpol). ”Orang tua saya keduanya petani tambak. Sejak saya kecil sudah didukung untuk menjadi polisi. Dan di kampung saya saat ini, sementara hanya saya yang menjadi perwira polisi,” pungkasnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Fajrus Shiddiq