Ajang Pencarian Bakat dan Imajinasi Ketenaran Instan

RADARMALANGID – Hampir dua dekade, ajang pencarian bakat menjadi salah satu acara televisi yang menarik minat penonton. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara lainnya.

Konsistensi minat masyarakat terhadap ajang membuat idol secara instan ini terlihat dari acara yang berlangsung setiap tahun.

Di Indonesia sendiri, ajang pencarian bakat dengan segala jualan drama di dalamnya telah dimulai dari awal milenium lalu, seperti Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idol, Kontes Dangdut Indonesia, hingga The X Factor.

Umumnya, para kontestan terpilih telah melalui proses audisi dan kemudian bersaing di atas panggung selama berminggu-minggu untuk memperebutkan posisi pertama.

Di beberapa ajang, penonton pun juga dilibatkan sebagai penentu nasib dan kemenangan para kontestan di acara tersebut. Bentuk dukungan yang diberikan biasanya lewat ‘voting’ atau pemungutan suara via SMS atau panggilan telepon.

Dilansir dari Korean Herald (17/11), Sosiolog Ewha Woman’s University, Lee Joo Hee mengungkapkan bahwa kemampuan ajang pencarian bakat instan ini untuk bertahan menggambarkan cita-cita masyarakat yang berharap atas kompetisi yang adil.

“Pemirsa cenderung memiliki fantasi bahwa audisi seperti itu adil dan kemampuan seseorang akan diakui melalui kompetisi yang adil, karena pada kenyataannya tidak begitu,” kata Lee Joo Hee.

“Mereka mendapatkan kesenangan, seolah mendapat perwakilan dari melihat orang biasa menjadi bintang,” tambahnya.

Lee Joo Hee bahkan menyebutkan lebih jauh, bahwa semakin maju kapitalisme suatu kawasan, maka program audisi macam tersebut makin populer. Hal ini disebut karena masyarakat yang lebih kapitalistik akan terbuka dengan persaingan yang sehat.

“Ketika orang-orang muda melamar pekerjaan, mereka harus menghadapi ‘audisi’. Format itu diterapkan pada program TV dan pemirsa terbiasa dengan format semacam itu,” ujar Lee Joo Hee.

Menurutnya, ajang pencarian bakat ini bertahan karena kebutuhan manusia atas pengakuan dan popularitas.

“Popularitas itu bisa dibilang sebagai sesuatu yang sampai sekarang masih dikejar. Jika dibandingkan, kebutuhan manusia itu ada tingkatannya, ada prioritasnya,” imbuh Lee Joo Hee.

Hal senada juga diungkapkan oleh Steven Reiss dan James Wiltz, akademisi psikologi Ohio State University dalam Psychology Today. Mereka menemukan bahwa ajang pencarian bakat memungkinkan orang berimajinasi mendapatkan status sosial melalui ketenaran secara instan.

“Orang-orang biasa dapat menonton pertunjukan, melihat orang-orang seperti diri mereka sendiri dan membayangkan bahwa mereka juga bisa menjadi selebriti dengan tampil di televisi,” tulis riset tersebut.

“Orang biasa bisa menjadi sangat penting sehingga jutaan orang akan menontonnya, dan sensasi rahasia dari banyak pemirsa itu adalah pemikiran bahwa mungkin lain kali, para selebriti baru mungkin adalah mereka sendiri,” tandas riset tersebut.

Penulis: Elsa Yuni Kartika
Foto: Istimewa