Airlangga yang Menentukan, Apakah Jagoan JK atau Luhut?

Dua senior Partai Golkar tersebut dikabarkan sedang merayu Ketua Umum Airlangga Hartarto untuk memposisikan orang pilihannya sebagai Sekjen Golkar menggantikan Idrus Marham. Lantas siapa yang akan diakomodir oleh Airlangga Hartarto?

Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing mengatakan, Airlangga jangan sampai terjebak dalam situasi tersebut. Artinya, jangan ada yang diakomodir terhadap titipan dari dua kader senior Golkar itu.

“Saya kira budaya titipan ini harus dihilangkan dalam kepengurusan Golkar,” tegas Emrus kepada JawaPos.com, Sabtu (23/12).

Ungkap Emrus, baiknya tokoh sekaliber JK dan juga Luhut Panjaitan tidak melakukan intervensi kepada Airlangga Hartarto. Sebaliknya, biarkan menteri perindustrian (menperin) itu menentukan siapa yang lebih pantas mendampinginya menjabat sebagai sekretaris jenderal.



“Sebaiknya struktur organisasi itu menjadi hak dari Pak Airlangga, jadi janganlah direcoki oleh senior-senior Golkar itu sendiri,” katanya.

Sebab, kata Direktur Eksekutif Emrus Corner itu, apabila Airlangga terlena dan mengakomodir dari senior Golkar, khawatir struktur kepengurusan partai bernuansa kuning ini akan penuh dengan orang-orang titipan.

“Kalau direcoki titipan, maka dari tokoh-tokoh lain juga akan ada (titipan). Itu akan buat Pak Airlangga pusing,” ungkapnya.

Menurut Emrus, harusnya para senior Golkar cukup memberikan masukan saja kepada Airlangga bukan melakukan intervensi dengan meberikan titipan kader. Sehingga kepengurusan partai beringin ini akan baik ke depan.

Lebih lanjut diungkapkan Emrus, Airlangga harus memperhatikan benar kriteria orang yang akan mengisi jabatan sekretaris jenderal. Pertama haruslah bersih sesuai dengan tema munaslub Golkar. Mencari kader bersih dari kasus hukum adalah harga mati bagi Airlangga.

“Maka kriteria pertama haruslah bersih, mencarinya gampang cek saja pembayaran pajaknya. Jadi jangan kekayaannya luar biasa tapi bayar pajaknya sedikit,” katanya.

Prasyarat kedua orang yang mengisi posisi sekretaris jenderal bukan dari faksi-faksi siapapun. Seperti yang disindir oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Partai Golkar besar namun banyak kelompok. Seperti kelompok JK, Luhut Binsar Panjaitan, Aburizal Bakrie (Ical), Agung Laksono, dan Akbar Tandjung.

Kata dia, apabila jabatan sekretaris jenderal diambil dari kelompok-kelompok itu. Maka setiap kerjanya akan tidak netral atau berat sebelah. Sehingga orang yang netral harus menjadi pilihan utama Airlangga.

“Karena kalau jabatan sekjen dari faksi-faksi tertentu maka tidak bisa berbuat objektif dalam pekerjaanya,” tuturnya.

Oleh sebab itu, sambung Emrus, sebaiknya JK dan juga Luhut Panjaitan memberikan keleluasaan bagi juniornya, Airlangga Hartarto dalam mencari sosok pengganti Idrus Marham di dalam Partai Golkar.


(gwn/JPC)