Ahmad Budiono, Mantan Wakil Wali Kota Pimpin NU Kota Batu

Sosok H. Ahmad Budiono punya pengaruh besar bagi warga nahdliyin di Kota Batu. Mantan pendamping Wali Kota Batu Eddy Rumpoko itu kini dipercaya menjadi ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) periode 2017–2020. M. Bahrul Marzuki

Rasa terkejut dan nyaris tak percaya masih menggelayuti benak Ahmad Budiono yang telah dipercaya memimpin PCNU Kota Batu pada Sabtu lalu (13/5). Sebab, cukup lama dirinya tidak aktif dalam jajaran pengurusan nahdliyin. Terlebih, setelah dia tidak lagi menjabat sebagai wakil wali Kota Batu tahun 2012 lalu.

Budiono mengaku, dalam lima tahun terakhir ini dia tidak ke mana-mana. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. ”Saya kaget saat ditunjuk menjadi ketua. Tidak menyangka, kok bisa saya yang dipilih,” kata Budiono saat ditemui di rumahnya yang berada di Jalan Mawar Putih, Kecamatan Bumiaji, seusai menunaikan salat Jumat kemarin (26/5).

Akan tetapi, dengan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya itu, dia menyatakan sangat siap. Dia pun berjanji akan mengemban amanah memimpin ormas (organisasi masyarakat) dengan massa yang besar di Kota Dingin ini.

Detik-detik terpilihnya Budiono menjadi ketua PCNU Kota Batu itu terjadi menjelang magrib, ketika dia diminta datang ke tempat konferensi cabang (konfercab) NU. Sebab, para ketua pengurus NU di tingkat desa, kelurahan, hingga kecamatan mengusung namanya sebagai ketua umum. ”Saya ditelepon. Ya sudah, saya datang saja,” ungkap bapak dua anak ini.

Saat itu, namanya disandingkan dengan Hazim Sirojuddin, ketua yang lama. Dalam pemilihan itu, namanya mendapatkan 35 suara dari 61 suara yang ada. ”Jadi, mayoritas pengurus memilih saya,” kata Budiono.



Karena memang dipercaya menjadi ketua, Budiono menerima saja jabatan tersebut. Bagi dia, masuk dalam jajaran pengurus NU bukanlah hal yang baru. Sebab, jauh sebelum menjadi anggota dewan dan juga wakil wali kota, dia sudah sangat aktif di oraganisasi ahlussunah waljama’ah itu.

Budiono berkhidmat di NU sejak tahun 1980-an. Saat itu, dia pernah menjadi wakil ketua Ansor hingga ketua di lembaga kajian dan pengembangan sumber daya manusia (lakpesdam) NU di Kota Batu. ”Saya baru tidak begitu aktif sekitar tahun 2000, karena berkarir di dunia politik,” ungkap dia.

Budiono memilih NU karena punya banyak alasan. Dia terlahir dari keluarga besar yang menganut NU sebagai organisasi keagamaan. ”Tidak ujug-ujug memilih NU,” terang pria kelahiran 1959 ini.

Sewaktu ditanya apa suka dan duka berkhidmat di NU, Budiono menjawab tidak bisa dinilai. Sebab, NU adalah tempat untuk mengabdi, bukan mencari keuntungan atau gaji. ”Jabatan ini beda dengan dewan atau wali kota yang dapat gaji. Di sini (PCNU, Red) tidak,” lanjutnya.

Budiono menyatakan masih menyusun visi dan misi PCNU Kota Batu ke depan. Dia akan menyampaikannya setelah resmi dilantik nanti. ”Yang jelas, agenda kemaslahatan (kebaikan atau kepentingan) umat di bidang pendidikan, dakwah dan sosial,” imbuh suami dari Dewi Masitah ini. (*/c1/yak)