Agar Tak Tertukar, Warga Sebut dengan Nomor Urut

Ada yang unik dari Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Pilkades yang coblosannya bakal dilakukan pada 11 November itu diikuti dua calon dengan nama sama: Djumain dan Djumain.

MOH BADAR RISQULLAH

 Baliho berukuran 2×3 meter terpampang di depan Balai Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji. Baliho itu menampilkan calon kepala Desa Karangpandan.

Nomor urut 1 Djumain dan nomor urut 2 Djumain. Nama yang sama, termasuk ejaannya. Barangkali, yang seperti ini baru kali pertama terjadi di wilayah Malang Raya.

Karena namanya sama, maka ketika menanyakan alamat rumah Djumain kepada warga, mereka akan bertanya balik. ”Djumain yang mana? Yang nomor satu atau nomor dua,” kata salah seorang warga kepada wartawan koran ini Kamis lalu (25/10).

Nah, Djumain yang nomor urut satu rumahnya tak jauh dari balai desa. Djumain yang ini punya embel-embel gelar sarjana ekonomi (SE) di belakang namanya. Jadi, mulai paragraf ini, Djumain nomor urut satu disebut Djumain SE.

Ketika wartawan koran ini tiba, Djumain SE tengah merapikan botol-botol bensin di kiosnya. Pria berkumis itu kemudian mempersilakan masuk ke ruang tamu.

Dia lantas menceritakan ikhwal keputusannya mengikuti Pilkades 2018. ”Sebenarnya pernah jadi kades di sini. Mulai tahun 2002–2012,” kata dia.

Setelah memimpin selama satu dekade, Djumain SE tak bisa maju lagi. ”Hingga kemudian ada perubahan peraturan. Warga pun meminta saya untuk nyalon lagi. Saya mengiyakan saja,” ungkap dia.

Apalagi, Djumain SE mendengar banyak keluhan dari warganya. Terutama yang terkait pembangunan dan perekonomian di Desa Karangpandan.

Alhasil, keputusannya itu membuat Djumain SE harus berhadapan dengan Djumain. Djumain SE pun sepakat bahwa pilkades tahun ini unik karena ada dua calon kepala desa yang bernama mirip.

Tak cuma namanya yang mirip, perawakan Djumain SE dengan Djumain sekilas mirip. Keduanya juga sama-sama berkumis. Tapi, kumis Djumain SE lebih tipis daripada Djumain. Usianya juga sama-sama kepala enam.

Djumain SE memang tak punya hubungan kekerabatan dengan Djumain. Meski begitu, Djumain SE mengaku kenal dekat dengan Djumain. ”Waktu saya jadi kades, dia jadi ketua RW. Hingga kini, dia masih ketua RW,” kata dia.

Lantaran memiliki nama yang sama, pria kelahiran 27 Desember 1957 itu sempat kesulitan saat kampanye. Terutama ketika menghadapi kaum tunanetra, tunarungu, dan lansia. ”Butuh tenaga ekstra,” katanya.

Meski optimistis bakal kembali menduduki kursi kepala desa, Djumain SE mengaku siap kalah. ”Apa pun hasilnya nanti, saya dan keluarga menerimanya. Toh, sama-sama warga,” kata bapak tiga anak ini. Dia juga berharap, pemilihan Kades Karangpandan bisa berjalan tertib dan aman.

Di tempat terpisah, calon nomor urut dua, Djumain optimistis bisa menang pilkades. Djumain menyebut, pengalamannya berorganisasi menjadi nilai plus.

Saat ini, Djumain tercatat sebagai ketua RW 04 Dukuh Kedungmonggo. Bahkan, Samini, istrinya, juga menjabat sebagai ketua RT setempat, tepatnya di RT 18. ”Hingga sekarang, saya masih aktif di ormas. Salah satunya NU,” ucap pria berusia 60 tahun itu.

Apalagi, keputusannya maju pilkades juga atas dorongan warga. ”Saya kan sering kumpul-kumpul dengan warga, terutama ketika ada kegiatan. Nah, di kegiatan-kegiatan itu, ada saja warga yang minta saya untuk maju nyalon,” kata dia.

Soal kesamaan nama dengan Djumain SE, Djumain awalnya tidak begitu memperhatikan. ”Saya tahunya pas ada warga bilang, ’Pak namanya kok sama?’,” kata pria yang sehari-hari berdagang sapi ini.

Bagi dia, adanya dua calon dengan nama sama memang unik. Dia pun yakin bahwa warga Desa Karangpandan pemilik hak pilih bisa membedakan mana Djumain SE dan yang mana Djumain. ”Kalau warga yang sudah lama menetap di sini, pasti bisa membedakan,” ujar

Pewarta: –
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Indar Mufarendra
Foto: Moh Badar Risqullah