Ada Kabar OVO Ditinggal Lippo Group, Bosnya Bilang Begini

JawaPos.com – Beredar rumor bahwa Lippo Group memutuskan berpisah dengan OVO. Namun, hal tersebut dibantah oleh Direktur Lippo Group Adrian Suherman yang menyebut bahwa isu tersebut tidak benar.

“Saya menegaskan bahwa berita-berita yang mengabarkan bahwa Lippo Group akan meninggalkan dan keluar dari OVO sepenuhnya rumor, sama sekali tidak benar dan tidak berdasarkan fakta. Sebagai pendiri OVO, kami sangat menyayangkan beredarnya rumor yang tidak benar tersebut,” tegasnya dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Minggu (17/11).

Ia juga menjamin, Lippo Group akan mendukung OVO dalam peningkatan inklusi keuangan di Indonesia. Pihaknya bersama dengan para pemegang saham OVO lainnya akan tetap menjadi satu bagian.

“Kami tetap merupakan bagian dari OVO yang dalam dua tahun ini telah berkembang pesat menjadi perusahaan fintech e-money Indonesia, yang dapat menjadi kebanggaan nasional. Kami berkomitmen terus mendukung upaya pemerintah, BI dan OJK untuk meningkatkan inklusi keuangan di Tanah Air,” tambahnya.

Senada dengan Adrian, Direktur PT Visionet Internasional (OVO) Karaniya Dharmasaputra mengatakan, ketidakbenaran isu yang beredar itu yang sangat merugikan eksistensi OVO dan Lippo Group. Bahkan, baru-baru ini dirinya telah berdiskusi dengan Direktur Lippo Group John Riady guna mengembangkan OVO ke depan.

“Pak John banyak memberikan masukan dan  sangat suportif terhadap berbagai upaya pengembangan bisnis OVO,” katanya.

Selain itu, Karaniya juga menuturkan, OVO merupakan perusahaan penyedia layanan keuangan digital yang didirikan, dirintis, dan dikembangkan oleh Lippo Group. Saat ini, para pemegang saham OVO sudah sangat beragam, seiring meningkatnya kinerja OVO, pada dua tahun terakhir.

“Kami adalah perusahaan independen yang dikelola oleh manajemen profesional. Mana mungkin OVO berpisah dari pendirinya,” tegas dia.

Sebelumnya, beredar kabar yang menyebut bila Lippo Group akan hengkang dari OVO karena tidak kuat lagi menyuntik dana. Kabar tersebut mengatakan bila OVO mengeluarkan biaya USD 50 juta (Rp 700 miliar) per bulan.