Ada Harta Karun di Bunker Bareng

Anang Hermansyah (kiri) mengunjungi bunker milik Suwandi (kanan) di kawasan Kelurahan Bareng, Kec Klojen, Kota Malang yang diduga dibangun pada era penjajahan Belanda. Doli Siregar-RADAR MALANG

MALANG KOTA – Bunker di RT 9/RW 4, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang, menyimpan banyak sejarah. Selain menjadi persembunyian sekaligus untuk evakuasi warga Belanda yang tinggal di kawasan Ijen, bunker ini menjadi tempat penyimpanan harta karun.

Itu terungkap saat tim napak tilas Jawa Pos Radar Malang-Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menemani Anang Hermansyah mengunjungi bunker tersebut. ”Tanah ini digali untuk mencari harta karun,” ujar Suwandi, 81, pemilik lahan yang di dalamnya terdapat bunker, di sela-sela mendampingi rombongan Anang meninjau bunker, Selasa (7/3) lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya, anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah tertarik mengunjungi bunker setelah mengetahuinya adanya penelusuran dari tim napak tilas. Anang ditemani istrinya, Ashanty, dan rombongan. Turut menyambut kedatangan Anang, Wali Kota Malang Moch. Anton bersama istri, Dewi Farida Suryani dan beberapa kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Yakni Ketua Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Ade Herawanto dan Kabag Humas Setda Kota Malang Nur Widianto. Di samping itu, ada pengusaha Iwan Kurniawan dan beberapa pengurus Yayasan Kelenteng Eng An Kiong.

Suwandi mengaku, sudah menemukan banyak emas di bunker tersebut. Emas-emas batangan itu dia simpan di bank. Sebenarnya, dia ingin melanjutkan penggalian harta karun di bunker ini. Namun, penggalian terpaksa dihentikan karena ada musibah. ”Yang bagian menggali sudah meninggal, gara-garanya menemukan emas tapi tidak bilang saya,” kata mantan pejabat dinas pekerjaan umum–yang kini berganti nama menjadi dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR).

Pria yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) tahun 1958 itu, menceritakan awal mula memiliki lahan tersebut. Satu tahun bertugas menjadi aparat pemerintah, dia ditugaskan mengikuti pendidikan geodesi (ilmu pemetaan bumi) di Solo. Sebanyak 9 PNS dikirim, tapi hanya Suwandi yang lolos. Berkat prestasinya, dia dihadiahi sebidang tanah dari Pemkot Malang di bawah kepemimpinan Wali Kota M. Sardjono Wiryohardjono, saat itu. ”Luas tanahnya 1.300 meter persegi,” kenang  dia.



Lahan ini Suwandi kelola. Dia membangun rumah dan kos-kosan. Kala itu, dia juga baru mengetahui adanya bangunan bawah tanah di lahannya. ”Sejak saya di sini, bunker tersebut sudah ada,” paparnya.

Suwandi bercerita, dia pernah masuk ke bunker itu. Berdasarkan pengalamannya, bunker ini terhubung ke Candi Singosari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dari pintu bunker di samping rumahnya, dia masuk lorong dan berjalan kaki. Kemudian, dia keluar di dekat Candi Singosari. Bunker tersebut juga menghubungkan ke Wisma Pramuka, area Splendid. ”Tembus simpang empat dekat Makodim juga (Markas Kodim 0833 Kota Malang, Jalan Kahuripan),” beber dia.

Kini, bunker itu sudah tidak bisa terhubung ke mana-mana. Sebab, Suwandi sudah menutup akses yang menghubungkan bunker ini ke area lain. Dia menutupnya dengan alasan keamanan. ”Banyak ular masuk, makanya ditutup,” tukas dia.

Pengamanan lain juga dilakukan Suwandi. Di antaranya, meletakkan pecahan kaca di pintu bunker. Jika ada ular di bunker, dia yakin tidak akan keluar menuju permukiman. Pasalnya, akses menuju permukiman sudah dipenuhi pecahan kaca berserakan. ”Kalau ada kaca, ular kan takut,” tutup Suwandi. (c4/dan)