Ada Dua Mobil tanpa Pakai BBM, Jadi Pusat Studi Banding

Di Kota Batu, ada tempat yang bisa dibilang sebagai pusat energi terbarukan. Tempat itu adalah Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kota Batu. Pemanfaatan energi terbarukan ini menarik banyak orang untuk belajar. Ada yang dari ASEAN dan Afrika. Seperti apa tempat ini?

 

ARIS DWI KUNCORO

 

Ruang itu ukurannya hanya 3×6 meter. Di dalamnya, seperti bengkel atau semacam laboratorium teknik. Yang membetot perhatian adalah genset yang menyambung ke beberapa lampu, dua tabung berdiameter 60 sentimeter, mesin purifikasi (alat untuk memisahkan gas), dan high pressure compressor atau kompresor untuk tekanan tinggi.

Di ruangan sederhana inilah, aneka macam penemuan termutakhir ditemukan. Ya, penemuan itu adalah Divisi Pengolahan Limbah dan Hasil Ternak BBPP Kota Batu. Di ruang itu pula, berbagai inovasi pemanfaatan limbah ternak dilakukan. Tim ini diketuai Ir Teguh Wibowo MSi dan tiga anggotanya Catur Puryanto SST, Dwita Indrarosa ST MP, dan Heru Sari Purnomo S. ST. Salah satu inovasi mereka adalah pemanfaatan biogas yang digunakan untuk genset dan kendaraan.

Saat wartawan koran ini berkunjung kemarin, beberapa demo dilakukan. Seperti menyalakan kompor dan genset untuk lampu. ”Sayangnya, hari ini (kemarin) mobilnya sedang keluar, ada dua mobil Kijang Innova dan Avanza di sini yang selama ini menggunakan biogas,” kata Heru sambil menunjukkan beberapa demo pemanfaatan biogas.

Pria asal Jogjakarta itu pun beranjak. Dia berjalan untuk menunjukkan semua sumber biogas itu. Dia berjalan ke kandang yang tidak jauh dari ruangan divisinya itu. Sekitar 10 meter. Heru menunjukkan beberapa bangunan cor untuk septic tank kotoran sapi di BBPP. ”Semua itu awal prosesnya dari sini,” kata dia sambil menunjuk salah satu septic tank itu. Dia menceritakan, dulu semua ini adalah bantuan dari UNESCO. Sekitar tahun 1985 lalu. Dari kotoran yang ditampung dan diproses itulah, akhirnya menjadi biogas.

”Namun, pemanfaatan biogasnya hanya sekadar untuk kompor gas,” ungkap Heru. Meski bermanfaat, penggunaan biogas untuk kompor ini tidak banyak menarik peternak untuk belajar. ”Di sini tujuan kami kan memang untuk mengedukasi, terutama untuk peternak. Mereka kurang tertarik alasannya masih banyak bahan bakar yang mudah didapatkan,” terang dia.

Apalagi, dia menjelaskan, peternak biasanya membawa kayu bakar saat kembali dari mencari rumput. Apalagi, butuh investasi besar untuk pembuatan sarana pengolahan biogas ini. ”Para peternak masih banyak yang mikir, daripada untuk membuat alat biogas yang mahal, lebih baik dibelikan anak sapi,” ujarnya sambil tertawa.

Jadi, edukasi terhadap peternak ini kurang berhasil. Divisi ini pun mencari cara lainnya. Mau tidak mau mereka harus berinovasi untuk bisa memanfaatkan biogas menjadi sumber energi lainnya.

”Kami mikir, bagaimana kalau tidak hanya untuk kompor saja,” ucap bapak dua anak ini. Nah, pada 2006 lalu akhirnya keinginan itu bisa terwujud. Dari semua kotoran sapi, yang diolah menjadi biogas bisa dimanfaatkan untuk menghidupkan genset. ”Jadi, kami satu-satunya balai (peternakan) kali pertama yang menghidupkan genset waktu itu,” ungkapnya.

Hal ini pun menjadi daya tarik bagi para peternak. Terutama mereka yang sudah skala industri. ”Sebab, kami menyasarnya peternak skala industri yang sudah cukup besar. Sebab, kalau skala industri bisa tercapai, nanti bisa menularkan ke peternak lainnya,” ungkapnya.

Pengembangan pun berlanjut. Pada 2014 lalu, tim ini memanfaatkan biogas dari peternakan untuk menjalankan mobil. Dan sampai sekarang, dua mobil milik BBPP menggunakan bahan bakar biogas. ”Sebenarnya menggunakan dua bahan bakar, bisa biogas maupun bahan bakar umum. Ini hanya jaga-jaga kalau biogas nantinya habis di tengah jalan. Kan tidak ada pengisian bahan bakar gas di sini,” ujar Heru sambil tertawa.

Untuk satu tabung biogas yang dipasang di satu mobil, bisa digunakan untuk jarak tempuh sekitar 50–60 kilometer. Selama ini, mobil berbahan biogas pun tetap ngacir berjalan.

”Tidak pernah ada kendala karena semua kami sesuaikan,” ujar Heru. Dia menjelaskan, proses biogas dari septic tank tidak langsung disambungkan ke tabung yang digunakan bahan bakar mobil. Biogas diproses dulu di mesin purifikasi. ”Mesin ini saya sendiri yang membuat, ini untuk H2S atau hidrogen sulfida, kalau tidak dihilangkan nanti bisa membuat korosi pada mesin,” ujarnya.

Nah, setelah melalui proses mesin purifikasi, disambungkan ke mesin high pressure compressor. ”Mesin ini (high pressure compressor) untuk mengisi ke tabung karena butuh tekanan besar. Satu tabung ini tekanannya maksimal 2.500 Psi, tapi kami isi 1.500 Psi,” ungkapnya.

Dari tabung itulah, nantinya yang digunakan untuk bahan bakar mobil yang selama ini digunakan. Dengan pemanfaatan biogas yang sudah berjalan cukup lama ini, juga menarik perhatian banyak orang. Selain para peternak skala industri, juga mahasiswa hingga orang luar negeri.

”Kalau sekarang jadi jujukan negara ASEAN dan Afrika,” terang Heru. Seperti sekitar September lalu, ada 25 negara dari Afrika, mereka dari departemen peternakan dan kalangan profesional yang datang untuk belajar pengolahan limbah di BBPP. Seperti dari Nigeria, Sudan, Afrika Selatan, Mali, Ghana, dan lain-lainnya. ”Kalau dari Indonesia ya sudah ribuan, dari berbagai daerah di Indonesia,” ungkapnya sambil tertawa. Heru pun berharap, nantinya akan banyak yang memanfaatkan limbah.

”Mau tidak mau sekarang ini harus dipersiapkan untuk mencari energi alternatif, karena pasti nantinya sumber energi dari fosil (minyak bumi) bisa habis,” terang dia. Dengan pemanfaatan limbah kotoran sapi ini, dia menjelaskan, selain untuk sumber energi, juga untuk mengurangi dampak pemanasan global. ”Global warming itu juga disebabkan industri peternakan. Sebab, gas metana dan karbondioksida yang tidak dikelola dengan baik. Kalau dimanfaatkan (biogas), artinya bisa mengurangi dampak itu (global warming),” tandasnya.

Pewarta: *
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Aris Dwi