ACT Rintis Akademi Relawan Bencana di Jogja






JawaPos.com – Potensi bencana di Jogjakarta ternyata cukup kompleks. oleh karena itu, Jogjakarta dipilih menjadi tempat untuk gelaran Akademi Relawan Indonesia (ARI). Kegiatan itu merupakan program yang dibentuk Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). ARI dipatenkan pada Minggu (28/10) di Dusun Kemput, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).





Andri Perdana, selaku Kepala ARI mengatakan, potensi bencana yang dimiliki Jogjakarta yakni, gempa bumi; erupsi gunung berapi; banjir; kekeringan; angin puting beliung; kebakaran dan lainnya. “Melalui ide dari sana, relawan perlu mempelajari dan mempersiapkan segala bentuk mitigasi kebencanaan,” katanya, Minggu (28/10).







Dengan mendapat pembelajaran, diharapkan relawan bisa memiliki semangat persatuan, kepemudaan dan kepahlawanan yang hadir dalam aksi kemanusiaan. “Kami berharap masyarakat yang berada di sekitar ARI, maupun seluruh masyarakat Indonesia dapat merasakan manfaat ARI,” katanya.



Akademi Relawan Indonesia (ARI) di bawah program yang dibentuk Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). (Ridho Hidayat/JawaPos.com)





Vice President Volunteer Network Development, Ibnu Fajar mengatakan, keberadaan ARI merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas relawan yang akan terjun ke berbagai persoalan di masyarakat. ARI juga menjadi arena pembelajaran relawan yang bakal menjadi agen untuk menghadirkan solusi bagi persoalan umum di masyarakat.





“Sehingga ACT dapat menurunkan pengalamannya kepada relawan, dan mereka bisa melakukan segala aktivitas ACT,” katanya.





Dikatakan Ibnu, pendidikan di ARI dibagi dalam 3 tahapan. Diantaranya, Pendidikan Dasar (Diksar); Pendidikan Menengah (Dikmen); dan Pendidikan Khusus (Diksus). Konsep pelaksanaannya, akan dibagi dalam beberapa periode.






Untuk Diksar dilakukan setiap bulannya, sedangkan Dikmen 3 bulan sekali, kemudian Diksus setiap 6 bulan sekali. “Sehingga setiap tahunnya ARI akan melahirkan 1.200 orang lulusan Diksar, 400 orang Dikmen dan 100 Diksus,” katanya.






Setiap pendidikan akan berperan di tingkatan profesional masing-masing. Semisal Diksar akan menjadi implementator, Diksar menjadi komandan posko wilayah, kemudian Diksus menjadi komandan posko induk.





Cakupan ilmunya pun terbagi dalam 2 bidang, disaster management (tanggap bencana) dan social development (pemberdayaan masyarakat). “Dari ARI, diharapkan membentuk relawan yang siap terjun ke masyarakat melakukan pendampingan,” ucapnya.





(dho/JPC)