ABJ Hormati Kubu 02 Maju di MK, Pakar HTN Ingatkan Bukti Sengketa

JawaPos.com – Tim kuasa hukum pasangan calon 02 Prabowo-Sandi Uno punya waktu tiga pekan untuk menyiapkan bukti-buktinya usai mendaftarkan gugatan sengketa Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi, Jumat (24/5) lalu. Lalu seberapa besar peluang kemenangan kubu oposisi itu di MK?

Guru besar Hukum Tata Negara Universitas Bengkulu Prof Juanda usai diskusi terkait sengketa hasil pilpres di Jakarta pusat, (26/7) mengatakan, setelah memasukkan gugatan sengketa, yang penting untuk dipersiapkan adalah bukti-bukti materiil.

“Jadi harus ada bukti mulai dari praktik kecurangannya, lokasinya, waktunya, saksinya, dan bukti lainnya,” ujar Juanda .

Juanda juga menuturkan, pada prinsipnya bukti yang diajukan harus bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Artinya, tidak hanya menjelaskan pandangan, pendapat, atau analisis saja.



Bukti yang diajukan harus dapat membuat hakim percaya bahwa memang ada kecurangan yang telah terjadi dalam proses pemilu. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah saksi. Juanda menuturkan, dalam sebuah persidangan, saksi adalah orang yang melihat, mendengar, atau mengalami langsung kejadian-kejadian yang didalilkan.

“Bila saksi mendengar dari pihak lain, maka dia lemah, tidak bisa dijadikan saksi,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Umum Arus Bawah Jokowi (ABJ) Michael Umbas menghormati langkah Prabowo-Sandi menggugat hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, Umbas meyakini langkah itu tidak akan membalik hasil Pilpres 2019.

“Sulit bagi Prabowo-Sandi mengubah hasil melalui MK. Karena selisih suaranya dengan Jokowi – Ma’ruf sekitar 16,9 juta,” ucap Umbas di Jakarta, Sabtu (25/5).

Selain itu, Umbas menganggap dalil dan fakta hukum yang diajukan kubu Prabowo dalam gugatan ke MK sama dengan yang pernah diajukan ke Bawaslu. Menurut Umbas, kubu Prabowo-Sandi pernah melaporkan dugaan kecurangan ke Bawaslu. Namun, ditolak karena duanggap tak memiliki fakta dan bukti autentik tentang kecurangan selain tautan dari berita media online.

“Prabowo sebaiknya bersikap legawa menerima hasil Pilpres 2019,” pungkasnya.