Abdul Tedy Rahman, Kepala Sekolah yang Aktif Mengamalkan The Power of Sedekah

Bagi Nasi Bungkus Dikira Tim Sukses, Sudah Bina 25 Anak Asuh

Abdul Tedy Rahman begitu istimewa bukan karena dia adalah kasek (kepala sekolah) yang bergelar doktor. Tapi, dia berbeda karena begitu rajin berkegiatan sosial. Sejak 1991 silam, Tedy sudah aktif menjadi orang tua asuh. Dalam satu setengah tahun terakhir, dia juga aktif membagi-bagikan nasi bungkus kepada keluarga pasien di rumah sakit.

Awal pekan selalu menjadi hari yang sibuk bagi Abdul Tedy Rahman. Ini jugalah yang terjadi saat wartawan Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke kantornya Senin lalu (19/2). Beberapa tumpuk berkas sudah ada di meja kerja Kepala SMAN 9 Kota Malang itu untuk dia pelajari.

Jika awal pekan menjadi hari yang sibuk, akhir pekan bukan berarti menjadi hari yang pas untuk berleha-leha. Di akhir pekan, dia banyak mengisi waktu dengan kegiatan sosial.

”Setiap akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri untuk membagikan seratus nasi bungkus kepada keluarga pasien di rumah sakit,” ucap pria yang akrab disapa Tedy ini membuka pembicaraan.

Aksi sosial itu dia lakukan secara konsisten. Total, sudah 1,5 tahun dia melakukan hal itu. Tepatnya saat Ramadan 2016. Saat itu dia menjenguk salah satu keluarganya yang sakit di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Malang.

Di bulan Ramadan, kumandang azan Magrib menjadi momen kebahagiaan bagi umat muslim. Saat berkunjung ke rumah sakit itu, kebetulan sudah masuk waktu berbuka. Tedy memutuskan untuk membatalkan puasa dengan minum. Lalu, dia bergegas ke masjid. Saat itu dia ketemu salah satu keluarga pasien yang kesulitan mencari menu berbuka karena keluarga yang sakit enggan ditinggalkan.

”Merasa iba, seusai salat saya ke kantin dan membeli nasi bungkus untuk keluarga pasien yang sakit itu,” imbuh pria berusia 53 tahun ini mengenang kejadian yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan itu.

Momen tersebut merupakan titik balik kegiatan sosial dari Tedy. Dia melanjutkan aksinya dengan membagi-bagikan 30 nasi bungkus setiap hari. Memasuki minggu ketiga, dia menambah porsi menjadi 50 bungkus. Berlanjut menjadi 100 bungkus per hari ketika menjelang Lebaran.

”Kebetulan saya memiliki banyak kenalan, dari situ aksi saya ini diketahui teman dan mulai banyak yang menyumbang aksi tersebut,” ucap pria kelahiran 3 Februari 1965 ini.

Tedy menambahkan, setelah Lebaran sisa kas dari sumbangan sejumlah relasinya mencapai Rp 1,5 juta. Uang tersebut lantas dibelikan nasi bungkus sebanyak 100 bungkus dan diberikan kepada keluarga pasien setiap akhir pekan. Sisa dana itu hanya bertahan dalam beberapa minggu. Meski begitu, dia tak lantas menghentikan aksi sosialnya tersebut.

”Saat kehabisan uang kas, saya menggunakan uang pribadi untuk membeli nasi. Aksi ini saya sebut dengan Nasib (nasi bungkus) yang hanya diberikan kepada keluarga pasien rumah sakit setiap Sabtu atau Minggu,” tuturnya.

Lalu, kenapa harus spesifik keluarga pasien? Menurut dia, keluarga pasien adalah orang yang sedang kesusahan. Sedangkan untuk pasien, menurut dia, yang dimakan sudah ada ketentuannya.

Sedangkan untuk lauknya sendiri, menurut dia, cukup beragam. Yang paling sering adalah ikan laut. Selain itu, dia biasanya menyediakan satu gelas minuman mineral.

”Saya membagikan pas waktu makan siang dan hampir semua rumah sakit yang ada di Malang sudah pernah saya singgahi,” imbuh pria yang pernah menjabat kepala sekolah di SMAN 3 Malang ini.

Namun, sekitar dua bulan belakangan ini, aksi Nasib itu dilarang salah satu rumah sakit yang ada di Kelurahan Klojen, Kota Malang. Saat itu, dia ditemui empat petugas rumah sakit. Mereka beralasan khawatir jika nasi yang dibagikan beracun. Padahal, aksi ini sudah berjalan lama, tapi baru saja dilarang. Kemungkinan lain, menurut dia, petugas khawatir kalau bagi-bagi nasi bungkus tersebut untuk kepentingan pilkada. Jadi, dia waktu itu disangka menjadi tim sukses salah satu pasangan calon.

”Akhirnya pada 8 Februari lalu saya membuat surat permohonan agar dibolehkan melakukan aksi Nasib ini. Dalam surat tersebut berisi permohonan izin serta dilengkapi kandungan gizi pada menu yang saya bagikan kepada keluarga pasien,” sambung Tedy.

Gerakan sosial Nasib ini bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, Tedy juga pernah melakukan aksi serupa pada 2011 lalu. Berawal dari gabung dengan Perharsia (Persatuan Haji RSIA), dia dengan sebagian rekan di paguyuban melancarkan aksi sosial. Yakni, setiap minggu komunitas yang menamakan dirinya WGP (Warung Gratis Perharsia) ini mengunjungi berbagai tempat keramaian yang ada di Malang Raya. Mulai dari lapangan hingga pasar tradisional.

Kemudian salah satu pedagang yang ada di daerah yang dikunjungi WGP, diborong semua menu yang dijual pedagang tersebut. Setelah itu siapa pun orang yang lewat diperbolehkan memesan secara cuma-cuma.

”Misi kami adalah mengenalkan Islam kepada masyarakat umum, tak hanya kepada umat Islam. Bahwa umat Islam itu suka akan kedamaian dan kebersamaan,” kata bapak lima anak ini.

Selain aktif menjalani aksi Nasib, warga Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, ini juga menghidupi tiga anak asuh di rumahnya. Jika sebagian orang mengangkat anak asuh dengan hanya membiayai, dia juga mengajak semua anak yang dia asuh untuk tinggal bersama.

”Tujuan saya selain menafkahi dan menyekolahkan, juga membentuk karakter mereka,” imbuh pria yang meraih gelar doktor Manajemen Pendidikan dari UM (Universitas Negeri Malang) ini.

Jauh sebelum itu, yakni ketika dia baru pindah dari Kalimantan Timur 1991 silam, dia membawa empat anak untuk diasuhnya. Hingga kini, kalau ditotal sudah ada sekitar 25 anak asuh yang pernah ikut bersamanya. Sekarang anak asuh Tedy sudah banyak yang sukses, ada yang berprofesi sebagai dosen, tentara, polisi, perawat, serta berbagai pekerjaan lain.

”Saya terinspirasi bapak saya, dulu beliau juga suka berbagi kepada sesama,” paparnya.

Tedy menambahkan, bersedekah dan berbagi kepada sesama itu tidak selamanya hanya bagi mereka yang mampu. Meski hidup sederhana, bukan menjadi alasan untuk tidak meringankan beban orang lain.

”Ini kan perintah agama, selain itu yang saya rasakan justru tenang dan nyaman saat menjalani kehidupan. Meski sering berbagi, saya tidak merasa kesusahan, justru kenikmatan yang semakin bertambah yang saya rasakan,” pungkasnya.

Pewarta: Ashaq Lupito
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Dokumentasi Abdul Tedy