9 Bulan, 9 Anak Terlibat Pencurian

KEPANJEN – Kasus kriminalitas yang melibatkan anak di bawah umur sudah sepatutnya mendapat perhatian bersama. Lantaran, jumlah perkaranya tiap tahun cenderung sulit turun. Salah satu dasarnya tercantum dalam rekapitulasi di Pengadilan Negeri (PN) Kelas I B Kepanjen.

Sepanjang Januari–September tahun ini, tercatat ada 97 perkara pidana pencurian yang telah menjalani agenda sidang. Dari total itu, 9 kasus di antaranya turut melibatkan anak di bawah umur.

Pada periode yang sama di tahun 2018 lalu, PN mencatat ada 10 perkara pencurian yang turut melibatkan anak-anak. Sejumlah motif melatarbelakangi tren kasus tersebut.

Penjelasannya disampaikan Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Kanit UPPA) Polres Malang Ipda Yulistiana Sri Iriana. Dia mengungkapkan bila tindakan pencurian itu biasanya dilakukan oleh anak-anak untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya.

Contohnya seperti gaya hidup yang ketagihan bermain game. ”Namun, ada pula akibat pergaulan bebas, seperti untuk membeli rokok tidak punya uang, akhirnya nyuri,” tuturnya. Barang-barang yang biasanya menjadi incaran pencuri anak di bawah umur adalah handphone.

”Ada juga (yang mencuri) ayam. Seperti hasil tangkapan kami pada 11 September lalu, tersangka DS (15) diketahui mencuri ayam milik pamannya,” imbuh Yulistiana. Dia juga menambahkan bila kriteria anak di bawah umur itu ialah tersangka yang berusia kurang dari 18 tahun.

Jika ditelusuri lebih jauh, dia mengindikasi bila angka kriminalitas yang melibatkan anak itu cukup dipengaruhi kurangnya perhatian dari orang tua. ”Kurangnya pantauan ini biasanya karena orang tuanya broken home sehingga hal itu mungkin memengaruhi psikis anak,” tambahnya.

Sementara itu, psikolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Dr Elok Halimatus Sa’diyah MSi setuju bila tren kasus itu perlu menjadi perhatian bersama. Sebab, jika tidak diantisipasi lebih, dia mengikuti bila tindakan itu akan menjadi kebiasaan hingga anak bertumbuh dewasa. ”Dalam hal ini pendidikan menjadi sangat penting, khususnya pendidikan agama,” kata dia.

Ditanya bagaimana seharusnya peran orang tua? Perempuan yang juga menjabat sebagai wakil dekan III Fakultas Psikologi UIN Malang itu mengatakan bahwa orang tua sudah seharusnya mempunyai perhatian lebih terhadap anaknya yang masih berusia di bawah 18 tahun. Sebab, pada rentan usia itu, secara umum anak belum mempunyai daya kontrol yang kuat.

Dia lantas menyebut bila perhatian dari kedua orang tua juga penting dalam proses pembentukan karakter si anak. Misalnya peran ayah dalam membentuk keberanian dan kemandirian anak.

Serta peran ibu pada penguatan psikis anak. ”Nah, jika salah satu peran itu tidak berjalan, maka seharusnya ada peran penggantinya. Misalnya dengan melibatkan lembaga pendidikan, atau orang-orang di sekitarnya,” kata dia.

Pewarta : Imron Haqiqi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya