8 Kesalahan Terbesar Pilot Drone Aerial Pemula

Arya Dega yang notabene pilot drone sekaligus YouTuber berbagi pengalaman dari yang selama ini dialami saat pertama kali memiliki drone

MALANG – Menerbangkan drone memberikan keasyikan tersendiri jika dibayangkan, terlebih jika kita memiliki kesempatan untuk langsung menerbangkannya sendiri. Drone yang dimaksud di sini adalah drone aerial yaitu drone yang digunakan untuk kebutuhan pemotretan maupun pembuatan video.

Harga drone aerial memang sangat beragam dan tidak ada yang murah, dengan rata-rata harga terendahnya Rp 5 jutaan. Sehingga saat seseorang berkesempatan menerbangkan drone aerial ini, mereka akan menikmati asyiknya pemandangan dari angkasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Sederhananya, pemandangan rumah mereka sendiri dari angkasa merupakan hal yang cukup menakjubkan bagi pilot drone pemula.

Dalam kesempatan ini, Arya Dega yang notabene pilot drone sekaligus YouTuber berbagi pengalaman dari yang selama ini dialami saat pertama kali memiliki drone, hingga berjalan 3 tahun lamanya.

Banyak hal-hal tak terduga yang dapat menyebabkan kesalahan fatal dalam pertama kali menerbangkan drone, bahkan kadang juga masih dialami oleh mereka yang sudah ahli. Berikut adalah 8 kesalahan terbesar pilot drone pemula aerial versi Arya Dega:

1. Terbang terlalu dekat dengan benda.
Menerbangkan drone memang mengasikkan dengan melihat langsung secara live streaming di smartphone saat sedang menerbangkannya. Tapi harus disadari bahwa tidak semua drone memiliki sensor anti nabrak, bahkan drone yang telah memiliki sensor anti nabrak pun dapat mengalami kecelakaan tabrakan dengan benda yang tipis atau permukaan kaca. Pantaulah selalu posisi drone dengan melihatnya langsung ke drone. Anda tidak pernah bisa mengukur dengan pasti tinggal berapa jarak antara drone dengan benda yang ada didekatnya. Apakah masih jauh, atau sudah dekat.

2. Tidak ada persiapan/survey sebelum pengambilan gambar.
Berpetualang ke berbagai tempat tentu sangat menyenangkan untuk diabadikan menggunakan drone. Ambil ancang-ancang terlebih dahulu kira-kira spot mana saja yang akan diabadikan menggunakan drone, akan lebih baik dan dapat menghemat baterai. Jangan lupa, bahwa menerbangkan drone untuk mengabadikan lokasi yang baru tanpa disertai survey, akan berakibat pada ehabisan waktu karena matahari selalu bergerak seiring waktu. Jangan sampai kehilangan cahaya matahari tanpa mendapatkan spot yang Anda inginkan karena belum melakukan survey sebelumnya.

3. Tidak mematuhi regulasi drone di wilayah setempat.
Di Indonesia sudah berlaku regulasi atau peraturan menerbangkan drone, walalupun belum sepenuhnya dipatuhi oleh kebanyakan pilot drone seperti larangan menerbangkan lebih dari ketinggian 150 meter, dan juga larangan menerbangkan di lokasi-lokasi sensitif militer dan pemerintahan. Pelanggaran regulasi drone di Indonesia dan di luar negeri tentunya memiliki hukum dan penanganan yang berbeda dari masing-masing pihak yang berwenang. Pelajari regulasi drone dengan seksama untuk menjaga keselamatan penerbangan, keselamatan lingkungan dan utamanya keselamatan diri sendiri. Ikutilah training dan sertifikasi pilot drone yang ada di Indonesia melalui komunitas terdekat di lokasi Anda.

4. Lupa menekan tombol rekam.
Lupa menekan tombol rekam sangat sering terjadi, terutama salah menekan tombol. Yang seharusnya merekam ternyata malah stop rekam. Siapkan kondisi mental saat menerbangkan drone agar tidak terjadi rasa canggung/gugup sehingga tidak lupa dengan status tombol rekam. Sayang sekali jika sebuah momen yang ingin diabadikan ternyata saat dicek di kartu memori momen tersebut belum tersimpan gara-gara Anda lupa dengan status tombol rekam.

5. Pengambilan gambar terlalu tinggi.
Terbang tinggi memang mengasikkan terlebih lagi dengan menggunakan drone, Anda bisa merasakan sensasi melihat semuanya dari angkasa. Tetapi terbang terlalu tinggi pun tidak akan menghasilkan gambar yang bagus. Anda akan kehilangan unsur dramatik jika terbang terlalu tinggi karena gerakan drone Anda tidak akan terasa melainkan hanya seperti merekam menggunakan kamera dari atas menara. Terbanglah rendah dengan ketinggian secukupnya (misalkan 30 meter – 60 meter), bergerak maju atau mundur atau ke samping, unsur dramatik akan lebih terasa dari gerakan drone.

6. Tidak mempersiapkan memori kosong.
Sering terjadi ketika sedang terbang di angkasa, merekam video, tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa memori anda penuh. Ini akan sangat mengganggu proses pengambilan gambar karena untuk mengulang kembali posisi drone yang telah Anda tentukan tadi, belum tentu bisa sama. Biasakan untuk mengosongkan kartu memori sebelum terbang, atau setidaknya memiliki satu lagi kartu memori kosong jika belum sempat memindahkan isi memori yang lama ke komputer.

7. Pengambilan gambar video yang kasar dan terlalu singkat.
Posisikan diri sebagai penonton yang nantinya akan menonton video aerial Anda. Jika gerakan drone terlalu cepat berputar ke kanan atau ke kiri, ada sentakan-sentakan gerakan, tentunya tidak bisa menjadi sebuah video yang enak dilihat. Latihlah jari dalam menggerakan stik kendali remote control drone Anda. Bergeraklah sehalus mungkin menyesuaikan kebutuhan. Jangan melakukan gerakan yang menyentak. Selain itu Anda juga harus mempertimbangkan durasi pengambilan gambar. Mungkin saat terbang anda bisa membayangkan hanya butuh 3 detik saja atau 5 detik saja. Tetapi saat memasuki editing, ternyata kurang lama, kurang banyak pilihan dari latar belakan gambar, kurang mengena pada unsur yang ingin disampaikan, dan sebagainya. Oleh karena itu, rekamlah gambar lebih panjang durasinya. Lebih baik merekam dalam durasi 3 menit dan hanya digunakan 5 detik, daripada merekam 5 detik ternyata di proses editing masih kurang.

8. Diam di udara terlalu lama.
Banyak pilot drone pemula belum menyadari bahwa mulai dari drone tinggal landas hingga mendarat, baterai drone telah mengalami beban penggunaan dan pengurangan kapasitas. Kadang mereka lupa drone masih di atas sana, sementara di bawah sini sang pilot melakukan proses pemindahan gambar dari memori ke smartphone atau sibuk berbincang dengan orang di sebelahnya. Yang paling sering terjadi adalah menghabiskan baterai karena sibuk menanggapi pertanyaan dari orang di sekitar. Jangan tanggapi pertanyaan dan perbincangan dari orang sekitar, kecuali dari co-pilot. Mereka yang mengajak bicara tidak akan mengerti bahwa baterai drone Anda terus berkurang dan berkurang di atas sana.

Foto: Arya Dega
Penyunting: Fia