8 Kecamatan Kekurangan Air Bersih

KEPANJEN – Jumlah kecamatan yang mengalami kekeringan terus bertambah. Awal September lalu, Kecamatan Jabung menjadi korban pertama. Kasus kekeringan di sana terjadi pada dua dusun, yakni Dusun Boro Jabung dan Dusun Gunung Kunci di Desa Jabung. Awal Oktober ini, jumlah kecamatan yang mengalami kekeringan bertambah. Totalnya ada enam wilayah yang menjadi korbannya. Selain Jabung, ada Kecamatan Lawang, Singosari, Sumbermanjing Wetan, Sumberpucung, dan Donomulyo.

Pantauan hingga kemarin (22/10), ada dua tambahan kecamatan yang juga menjadi korban kekeringan. ”Kalipare dan Pagak juga meminta dropping air bersih,” terang Kasi Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Malang Leonardo Agus Suphardy. Bila ditotal hingga kemarin (22/10), tercatat ada 8 kecamatan yang sudah meminta bantuan air bersih pada BPBD Kabupaten Malang.

Lebih lanjut dijelaskan Leo, sapaan akrab Leonardo, tercatat ada 9 desa di 8 kecamatan yang mengalami kekeringan. Di antaranya yakni Desa Sidoluhur, Wonorejo, Jabung, Kemiri, Purwodadi, Sumberoto, Kalirejo, Karangkates, dan Desa Sumberagung. Di sisi lain, Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan memastikan bila pihaknya masih siap sedia dalam menyuplai air bersih.

Dijelaskan dia, total ada empat kendaraan truk tangki yang disiagakan. Tiga di antaranya milik BPBD, satu unit lainnya milik PDAM Kabupaten Malang. ”Tiap dua hari sekali kami pasok tiga tangki untuk masing-masing kecamatan,” kata Bambang. Masing-masing truk tangki itu bermuatan 5.000 liter air.

Dibandingkan dengan tahun lalu, kasus kekeringan 2018 ini memang lebih sedikit. Pada 2017 lalu, BPBD mencatat ada 10 kecamatan yang mengalami kekeringan. ”Kami berharap tidak sampai seperti itu, tapi kalau memang terjadi sudah kami siapkan langkah antisipasinya,” tambah Bambang.



Selain memaksimalkan empat mobil tangki, BPBD juga bersiap meminta bantuan kepada PDAM serta dinas perumahan, kawasan pemukiman, dan cipta karya (DPKPCK). ”Kemungkinan pertengahan November besok sudah turun hujan, jadi pasokan air bisa dihentikan,” imbuhnya. Terpisah, Riyanto, salah satu petani di Waduk Dempok, juga mengeluhkan kemarau panjang yang terjadi tahun ini.

Pria berusia 52 tahun itu menyatakan bila surutnya waduk mulai terjadi sejak tiga bulan lalu. ”Setiap tahun pasti seperti ini,” kata dia. Tanah basah yang mulai mengering selalu dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. ”Biasanya kami tanami jagung,” imbuhnya. Saat debit air mulai meninggi, warga bakal kembali ke aktivitas sebelumnya, yakni menjadi nelayan.

Pewarta: Farik Fajarwati
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Bayu Mulya