7 Perbedaan Kereta MRT Jakarta dan Singapura

JawaPos.com – Kereta cepat Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sedang memasuki masa uji coba penuh bersama penumpang. Ribuan penumpang telah berhasil diangkut oleh kereta buatan Jepang tersebut.

Kereta ini memang spesial, hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit untuk sampai di stasiun berikutnya. Bahkan, yang menjadi primadona karena MRT didesain melintasi jalur bawah tanah dan layang.

Berikut JawaPos.com mengumpulkan beberapa fakta menarik terkait perbedaan signifikan antara MRT Singapura dan MRT Jakarta. Walaupun baru, ada beberapa hal yang menarik perhatian.

Suasana MRT Singapura (Reyn Gloria/ JawaPos.com)

1. LED Pemberitahuan

Pada moda MRT Singapura ada sekitar 3-4 LED yang menampilkan jadwal keberangkatan kereta selanjutnya, bahkan terpampang pula informasi kepadatan kereta. Seperti, jika gerbong berwarna hijau artinya kereta lenggang, oranye lumayan padat sedangkan merah berarti padat.

Jika dibandingkan dengan MRT Jakarta, pada stasiun bawah tanah dan stasiun layang hanya mematok 2 layar LED pemberitahuan. Yaitu, di dua ujung kereta saja.

2. Bangku atau Waiting Chair

Untuk bangku sendiri, MRT Singapura memang masih menjadi pemenang karena terdapat beberapa kursi di setiap stasiun untuk di lantai atas maupun bawah. Berbeda dengan MRT Jakarta, kursi di beberapa stasiun hanya ada di atas stasiun saja di bawah tanah tidak, namun ada juga yang menyediakan kursi.

7 Perbedaan Kereta MRT Jakarta dan Singapura

3. Suara bising saat keberangkatan/ kedatangan

Kategori ini dapat dibilang MRT Jakarta dapat menjadi juara, sebab untuk kedatangan ataupun keberangkatan suara bising amat minim terdengar. Berbeda dengan MRT Singapura yang cukup terdengar gemuruh ketika sudah mendekati stasiun.

Namun memang, ada beberapa penumpang yang mengeluhkan ketika MRT Jakarta ada di belokan sedikit mengguncang. Sedangkan, jika MRT Singapura tidak terasa guncangan dalam keadaan jalan lurus maupun berbelok.

4. Kedalaman stasiun

Untuk kedalaman stasiun, memang standar Singapura lebih baik. Untuk menaiki MRT Singapura, para penumpang harus turun tangga atau eskalator hingga tiga sampai empat kali barulah menemukan pintu masuk kereta.

Sedangkan, untuk MRT Jakarta hanya dua kali turun saja sudah bisa bertemu dengan pintu masuk kereta. Ada beberapa tangga juga yang terlihat khusus tanpa didampingi eskalator disampingnya seperti yang lain.

7 Perbedaan Kereta MRT Jakarta dan Singapura
Suasana MRT Singapura (Reyn Gloria/ JawaPos.com)

5. Kabin untuk masinis

Hal ini menarik untuk dibahas, sebenarnya untuk kereta MRT sendiri mempunyai ciri khas untuk digerakkan langsung oleh mesin. Begitulah yang diterapkan di Singapura maka tidak ada ruang atau kabin untuk masinis.

Berbeda dengan yang diterapkan di Jakarta, walaupun juga memakai mesin alih-alih sedia payung sebelum hujan. Pada ujung depan dan belakang kereta biasanya terdapat ruang kabin yang dikhususkan untuk masinis walaupun sifatnya hanya ‘jaga-jaga’.

6. Kursi penumpang

Sebelumnya, untuk setiap gerbong di MRT Singapura tidak terdapat pembatas atau sekat seperti pintu. Namun berbeda dengan yang dimiliki Jakarta, layaknya commuterline ada pintu pemisah yang dipasang untuk memisahkan antar gerbong.

Pada MRT Singapura pun menarik dalam hal kursi penumpang, ada ruang yang dikosongkan tanpa kursi untuk penyandang disabilitas. Tetapi untuk kursi penumpang di MRT Jakarta, seluruh gerbong memang semuanya diberikan ruang kursi.

7. Integrasi dengan moda lain

MRT Singapura memang jauh sudah beroperasi puluhan tahun, dibanding MRT Jakarta. Maka, integrasi antar moda dengan bus dan LRT sudah sangat baik adanya bahkan sejak 2002, MRT Singapura telah langsung berintegrasi dengan Bandara Udara Changi.

Sehingga, keluar dari MRT Singapura semua penumpang bisa langsung menaiki bus atau berjalan ke tempat tujuan. Sayangnya, hal ini masih berproses di Jakarta sebab beberapa halte bus penghubung masih baru ada yang dibangun.

Tidak hanya perbedaan, adapula beberapa kesamaan antara MRT Jakarta dan MRT Singapura yaitu kawasan yang ramah difabel. Stasiun memang dirancang untuk memudahkan semua penumpang, maka disediakan lift ataupun eskalator. Juga tidak ketinggalan, semua stasiun pun dilengkapi dengan guiding block.

Sementara untuk toilet, sama seperti di Singapura toilet pun dibedakan menjadi beberapa ruang. Ada toilet wanita, pria, bahkan ibu menyusui, dan juga penyandang disabilitas. Tidak lupa, setiap stasiun pun menyediakan mushola dengan luas sekitar 4×5 meter persegi.

Editor           : Bintang Pradewo

Reporter      : Reyn Gloria