65 Perusahaan Buka 3.720 Loker

Para pencari kerja tampak memadati job fair di Aula Skodam.

MALANG KOTA – Ini menjadi kesempatan bagi warga Malang Raya yang ingin berkarir di perusahaan. Selama tiga hari sejak Senin kemarin (23/7) hingga Rabu (25/7), Dinas Tenaga Kerja Kota Malang menggelar job fair di Aula Skodam V Brawijaya Malang. Di job fair yang digelar dua kali dalam setahun ini, ada 3.720 lowongan pekerjaan yang disediakan oleh 65 perusahaan, baik dalam Kota Malang maupun luar kota.

Sekretaris Daerah Kota (Sekkota) Malang Wasto menyampaikan, kegiatan ini menjembatani antara perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dengan pencari pekerjaan. Fasilitas ini sangat strategis dan menguntungkan keduanya.

”Kalau ini bisa segera dipenuhi, tentu perusahaannya juga menambah keuntungan. Pencari kerja juga mendapat penghasilan dari pekerjaannya ini,” terangnya.

Job fair ini sangat baik untuk memberi kesempatan warga bekerja. Ujungnya, pertumbuhan ekonomi Kota Malang ikut terangkat. ”Akan meminimalisasi persoalan sosial, mulai kriminalitas hingga gejolak sosial,” kata Wasto.

Yang menarik, di ajang job fair ini, perusahaan juga memberi kesempatan berkarir bagi penyandang disabilitas. Sementara itu, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, tingkat pengangguran terbuka masih tinggi. Bahkan dari beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur, Kota Malang menduduki peringkat kedua dengan total pengangguran sebesar 31.933 orang. Jumlah ini masih merangkak lambat di tahun 2018.



Kepala Seksi Statistik Sosial BPS Kota Malang Henry Soeryaning Handoko menjelaskan, jumlah angkatan kerja di Kota Malang mencapai 443.035 jiwa. Sementara warga yang bekerja sebanyak 411.042. Tingginya angka pengangguran itu tidak hanya ”disumbang” warga asli Kota Malang saja. Tetapi juga ada warga luar kota yang menganggur dan berada di Kota Malang. Warga luar kota inilah yang juga dihitung dalam parameter tingkat pengangguran terbuka (TPT) BPS.

”Jumlah TPT pada 2017 lalu mencapai 7,22 persen. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan Jatim yang berada di angka 4,00 persen. Sedangkan secara nasional 5,50 persen,” terang Henry saat ditemui di ruangannya kemarin (23/7).

Pewarta: Sandra Desi & Moh Badar
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Bayu Eka