61 Persen Remaja Masih Takut Bicara Edukasi Seksual Pada Orang Tua

JawaPos.com – Remaja mengalami fase penting dan serba ingin tahu atas segala hal. Termasuk soal pendidikan seks. Wadah paling baik untuk berbicara seputar pendidikan seks pastinya adalah orang tua. Akan tetapi justru lebih dari separuh remaja, takut diomeli atau dimarahi orang tua saat ingin bertanya seputar pendidikan seks.

Survei Reckitt Benckiser (RB) dan Durex terhadap anak muda yang dilakukan di lima kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Jogjakarta menemukan, 61 persen anak muda merasa takut dihakimi oleh orang tua mereka ketika ingin bertanya tentang pendidikan seksual. Alhasil, remaja justru mencari pelarian dengan mencari informasi sendiri lewat internet atau kepada teman. Padahal, sangat penting bagi orang tua untuk bersikap lebih terbuka dan ramah serta mengubah cara mereka mendidik dan berkomunikasi.

untuk itu, dalam kampanye edukatif, EDUKA5EKS, yakni langkah mudah memahami pengetahuan tentang kesehatan dan edukasi seksual serta reproduksi lewat tagar #Enaknyadiobrolin. Berdasarkan hasil survei Durex, ketika mengalami tanda pubertas pertama kali, mayoritas responden remaja memilih orang tua (52 persen) sebagai sumber informasi utama mereka untuk berkonsultasi dan mendiskusikan pengalaman pertama mereka.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, ketika responden kaum muda telah melewati tanda pubertas pertama (yaitu mimpi basah untuk anak laki-laki dan periode hari pertama haid untuk anak perempuan), mereka menjadi lebih nyaman membahas reproduksi kesehatan dan topik pendidikan seksual dengan teman (41 persen). Survei menyebutkan, fenomena ini terjadi karena mereka takut dihakimi oleh orang tua (61 persen) ketika mereka membahas topik tersebut.

Kampanye EDUKA5EKS – 5 langkah mudah memahami
pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi bersama Durex Indonesia, mendorong keluarga untuk lebih terbuka dalam pendidikan seks lewat tagar #Enaknyadiobrolin. (Istimewa)



“Memahami situasi ini, kami mendorong keluarga di Indonesia untuk kembali mengambil peran mereka sebagai penasihat anak-anak mereka dan sumber informasi tepercaya tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi serta menemani mereka melewati tahap pertumbuhan,” kata General Manager Reckitt Benckiser Indonesia Srinivasan Appan, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/7).

Karena itu, sangat penting bagi remaja dan orang tua untuk bersikap saling terbuka terutama untuk mengetahui informasi penting tentang edukasi seks. Lalu bisa mencegah penyakit menular seksual (PMS), risiko kesehatan pada kehamilan dan pernikahan di bawah usia 20 tahun, serta perlindungan organ reproduksi yang belum disampaikan oleh keluarga sejak dini tentang pengetahuan hubungan seksual, yang dapat memengaruhi masa depan mereka.

Direktur CSR Reckitt Benckiser Indonesia dr. Helena Rahayu Wonoadi, mengatakan teman sebaya dan internet merupakan sumber yang paling nyaman bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi. Meskipun faktanya, ada banyak konten yang tidak bisa dipercaya atau informasi yang salah yang tidak layak dikonsumsi mereka.

“Karena itu, kami datang dengan inisiatif lima langkah sederhana ini untuk lebih memahami tentang diri Anda dan juga pendidikan kesehatan seksual. EDUKA5EKS adalah cara kami untuk menjangkau kaum muda, orang tua,” tegasnya.

Saran Untuk Orang Tua

Dengan kondisi ini, orang tua harus lebih terbuka untuk memberikan pendidikan seks pada anak sejak fase remaja dimulai. Sebab remaja rentan dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

1. Orang Tua Harus Lebih Komunikatif

Reckitt Benckiser (RB) Indonesia, melalui merek Durex, memperkuat komitmen perusahaan mendukung keluarga Indonesia untuk berperan aktif dan menjadi sumber informasi kesehatan seksual dan reproduksi bagi anak-anak mereka. Perusahaan mendorong para orang tua di Indonesia agar lebih terbuka dengan anak-anak mereka, menyampaikan komunikasi yang lebih asertif untuk mendiskusikan topik-topik tentang seks. Para remaja bisa menjadikan orang tua sebagai sumber paling nyaman untuk membahas hal tersebut (sebagai teman mereka) sehingga mereka dapat berbicara tanpa merasa takut maupun disalahkan.

2. Respek Pada Pertanyaan Anak

Memberikan perhatian (respek) pada topik-topik tentang seks di dalam diskusi keluarga sangatlah penting. Hal ini seperti menciptakan rumah tangga yang penuh kehangatan dan rasa saling mencintai di antara semua anggota keluarga.

3. Orangtua Harus Sensitif

Orang tua harus sensitif memahami perubahan biologis anak-anak remaja mereka. Para orang tua tidak hanya menyediakan pendidikan tentang seks bagi anak-anak mereka, namun sebaiknya mereka juga menawarkan anak-anak mereka untuk bergabung dalam aktivitas olahraga atau hobi yang dapat membantu mereka mengalihkan hasrat seks mereka.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani