6 Bulan, PA Tangani 223 Pernikahan Siri

KEPANJEN Fenomena nikah siri atau kerap diistilahkan dengan nikah di bawah tangan masih marak di Kabupaten Malang. Salah satu petunjuknya bisa dilihat di Pengadilan Agama (PA).

Tepatnya dari rekap jumlah perkara isbat nikah yang masuk ke PA. Pada kurun waktu Januari hingga Juli tahun ini, tercatat ada 223 perkara. Dibandingkan periode yang sama pada 2018 lalu, jumlah itu diketahui meningkat. Saat itu PA mencatat ada 179 perkara isbat nikah.

Bila ditotal secara keseluruhan, pada tahun 2018 lalu, tercatat ada 341 perkara isbat nikah. ”Kemungkinan pada tahun 2019 ini bakal meningkat,” terang Humas PA Kabupaten Malang Edi Marsis MH.

Untuk diketahui, isbat nikah merupakan salah satu tahapan yang harus dilalui pasangan suami istri (pasutri) yang sebelumnya telah menikah siri. Seiring perjalanan waktu, mereka hendak melegalkan statusnya secara hukum kenegaraan.

Setelah melalui proses sidang di PA, pasutri baru bisa mengurus legalitas hubungannya ke kantor urusan agama (KUA). Setelah tahapan itu dilalui, barulah mereka bisa mengantongi surat nikah.



Dari sekian jumlah isbat nikah yang masuk ke PA, Edi menuturkan bila penyebab paling dominan karena pernikahan dini. ”Biasanya, mereka telah mengajukan dispensasi nikah tapi tidak diterima (PA). Lantas mereka mengajukan isbat nikah setelah cukup umur atau setelah punya anak,” paparnya.

Biasanya, PA akan mengabulkan usulan isbat nikah bila pasutri telah memiliki anak. Meski begitu, tidak semua jumlah perkara isbat nikah dikabulkan oleh mereka.

”Yang tidak memenuhi syarat ya tidak kami kabulkan,” kata Edi. Hingga Juli tahun ini, tercatat ada 45 pengajuan perkara yang ditotal PA. Umumnya, mereka yang ditolak itu tidak mampu memenuhi sejumlah syarat.

Seperti tidak terpenuhinya beberapa rukun pernikahan. Contohnya tidak adanya saksi dan wali dalam pernikahan.

”Sebab ada juga yang tidak pernah nikah, tapi hanya kumpul kebo, lalu hamil. Mereka lalu minta pengesahan kepada pengadilan agama. Tentu kami tidak bisa mengabulkan,” papar Edi mencontohkan.

Secara pribadi, dia menyarankan agar masyarakat, khususnya para perempuan, menghindari pernikahan siri. ”Bisa saja suami tiba-tiba meninggalkan istri.

Kalau sudah begitu, istri kan tidak bisa mengurus akta kelahiran anaknya,” imbuhnya. Senada dengan Edi, Kepala KUA Kecamatan Gondanglegi Muhammad Mursyid menyebut bila pernikahan dini kerap menjadi alasan di balik perkara isbat nikah.

”Ada yang memang karena sudah kecelakaan, ada juga karena menikah usia dini. Jadi, dulunya minta dispensasi nikah, tapi tidak dikabulkan, akhirnya menikah siri dan ujung-ujungnya mengajukan isbat nikah,” paparnya. Dia berharap, warga lebih peduli dengan pentingnya legalitas pernikahan.

Sebab, dari sanalah sejumlah dokumen penting seperti akta kelahiran anak bisa diurus. ”Makanya yang banyak mengajukan isbat nikah di sini adalah orang-orang yang sudah mempunyai anak,” imbuhnya. Tidak menutup kemungkinan jumlah pasutri yang menikah secara dini di tingkat masyarakat masih cukup banyak.

Pewarta : Imron Haqiqi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya