57 Sumber Air Butuh Perhatian Lebih

KOTA BATU – Kondisi sumber air di Kota Batu tengah menjadi sorotan. Koordinator Tim Sapu Bersih Sampah Nyempung Kali (Sabers Pungli) Kota Batu Ahmad Rifai menyebut bila saat ini kondisinya makin memprihatinkan.

Dia menyebut bila 57 dari 111 sumber air kini debitnya mulai menurun. ”Bisa jadi 10 tahun ke depan Kota Batu kehilangan sumber. Yang jelas data itu masih belum valid karena kami yang di lapangan melihat secara real bahwa kondisi sumber air di Kota Batu sangat memprihatinkan,” kata dia.

Lebih lanjut dia mengaku bila pihaknya menyoroti kondisi tiga sumber utama di Kota Batu. Yakni, Sumber Binangun, Banyuning, dan Sumber Torong.

Untuk mencegah berkurang kualitas sumber, tiap pekan tim Sabers aktif melakukan kegiatan bersih-bersih. Rifai menyebut bila tiap minggu pihaknya bisa mengangkat sampah sebanyak 4–5 ton di setiap titik sumber dan sungai.

”Kesadaran masyarakat juga penting. Kadang mereka tidak berpikir panjang, rata-rata mandi di sumber air, terus sampah plastiknya dibuang begitu saja. Lama-lama sumber akan mengalami pendangkalan,” keluh dia.



Di sisi lain, dia juga menyebut bila Pemkot Batu terkesan acuh terhadap keberadaan sumber air. Lantaran, selama ini belum ada peraturan daerah (perda) khusus yang dibuat untuk melindungi sumber air.

”Pemkot harus melihat jika sumber mata air ini merupakan kawasan konservasi. Seharusnya tegaslah, terkait (pelanggaran) membuang sampah sembarang dan mendirikan bangunan di dekat sumber,” imbuh Rifai.

Kekhawatiran tentang keberlangsungan sumber air itu turut dikomentari Kabag Teknik Perumdam Among Tirta Kota Batu Dwi Pudji Santoso.  Dia tidak menutup kemungkinan jika 10 tahun ke depan Kota Batu berpotensi kehilangan lumbung air.

Dia lantas menjelaskan dari total 186 sumber yang dikelola Perumdam Kota Batu, hanya enam sumber yang dinilai produktif. Sementara kebutuhan konsumsi air di Kota Batu mencapai 135 liter per detik.

”Itu untuk 14 ribu warga di Kota Batu. Memang sebenarnya ada banyak sumber air, hanya kan kami mempertimbangkan kualitas dan debit air yang keluar,” kata dia.

Enam sumber yang masih cukup produktif itu ada di Sumber Binangun, Banyuning, Sumber Ngesong, Sumber Gemulo, Sumber Torong, dan Sumber Kasinan. Air dari enam sumber tersebut sebagian ada yang dialirkan untuk Kota Malang dan Kabupaten Malang.

”Ada yang dikelola hanya 40 persen saja, ada yang sepenuhnya dikelola oleh PDAM Kota Malang,” imbuhnya. Dwi meyebut jika salah satu sumber yang sudah tidak bisa diambil alih oleh Kota Batu yaitu Sumber Binangun.

Sementara di Sumber Banyuning, Perumdam Kota Batu masih memiliki kewenangan 60 persen. Untuk saat ini memang Pemkot Batu tidak mempersoalkan hal itu karena persediaan air dinilai masih cukup melimpah.

”Kami sudah bisa ambil alih, selama mereka (Kota dan Kabupaten Malang) masih berkontribusi terhadap Kota Batu, masih kami kelola bersama,” paparnya. Dia menambahkan bila air dari Sumber Cinde dan Dandang saat ini masih dialirkan ke Kabupaten Malang.

Debit air dari titik itu mencapai 235 ribu meter per kubik. Sementara yang masuk ke Kabupaten Malang sebanyak 200 meter per kubik. Sisanya baru dialirkan ke Kota Batu.

Di sisi lain, Dwi juga turut menyoroti sejumlah persoalan yang membuat sumber air di Kota Batu berkurang. Salah satunya disebabkan adanya pembangunan sumur bor di beberapa hotel.

”Sumur resapan warga hanya kedalaman 20 meter. Sementara sumur bor itu rata-rata (kedalamannya) ya 100 meter lebih. Bayangkan kalau ada lima sumur bor saja di sini, air bakal masuk ke sana semua,” imbuhnya.

Sebagai upaya penanggulangan ancaman kekeringan, Perumdam Among Tirta Kota Batu sudah menyediakan dana Rp 300 juta. Dana itu akan dipergunakan untuk membangun sumur resapan.

”Itu tahun 2020 baru akan kami bangun. Sudah ada anggarannya. Kalau memang itu masih gagal, ya terpaksa kami manfaatkan Sungai Brantas untuk diolah menjadi air bersih seperti yang dilakukan Kota Surabaya,” pungkasnya.

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya