50 Sopir Lolos Tes Urine Dadakan

Aparat seolah-olah ingin menunjukkan kesiapannya dalam mengamankan musim mudik tahun ini. Salah satu contohnya ditunjukkan di Terminal Talangagung, Kepanjen, kemarin (8/6), saat dilakukan tes urine dadakan untuk 50 sopir. Baik sopir bus maupun sopir truk. Petugas dari Polres Malang dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang memimpin langsung kegiatan tersebut. KBO Satlantas Polres Malang Iptu Edy Purnama menyatakan jika pemeriksaan tersebut merupakan langkah awal mengantisipasi kecelakaan.

KEPANJEN – Aparat seolah-olah ingin menunjukkan kesiapannya dalam mengamankan musim mudik tahun ini. Salah satu contohnya ditunjukkan di Terminal Talangagung, Kepanjen, kemarin (8/6), saat dilakukan tes urine dadakan untuk 50 sopir. Baik sopir bus maupun sopir truk. Petugas dari Polres Malang dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang memimpin langsung kegiatan tersebut. KBO Satlantas Polres Malang Iptu Edy Purnama menyatakan jika pemeriksaan tersebut merupakan langkah awal mengantisipasi kecelakaan.

Mengapa sopir, karena kemungkinan penggunaan obat-obatan terlarang yang sesuai didalami petugas. ”Terlebih saat ini momennya mudik Lebaran, jadi akan sangat berisiko bagi penumpang jika pengemudinya mengonsumsi obat-obatan terlarang,” kata Edy. Dia mengakui jika beberapa sopir masih kerap mengonsumsi narkoba. Umumnya berjenis sabu-sabu. ”Biasanya dikonsumsi untuk menambah vitalitas atau doping,” tambah dia. Menurut dia, kondisi itu sering ditemui pada sopir-sopir dengan trayek yang panjang.

”Makanya pemeriksaan ini lebih kami tekankan untuk para pengemudi dengan trayek panjang, baik antarkota maupun antarprovinsi,” jelas Edy. Dokter BNN Kabupaten Malang dr Bagus Putra Perdana memastikan jika pemeriksaan urine yang dilakukan kemarin tidak menemukan adanya indikasi penggunaan narkotika. ”Karena yang paling sering dikonsumsi dan mudah didapatkan jenis sabu-sabu, maka parameter yang kami gunakan adalah zat metamovetamin,” kata dia.

Selain mengidentifikasi penggunaan narkoba, dia juga memeriksa kondisi tekanan darah setiap pengemudi. Sesuai standar World Health Organization (WHO), batas normal tekanan darah untuk pengemudi berada pada skala 80/120. ”Yang sudah kami periksa ini tadi (kemari) rata-rata normal 120, tapi ada juga yang mencapai 150,” tambah Bagus.

Tensi yang tinggi tidak membuat sopir yang bersangkutan dilarang beroperasi. ”Kalau yang tekanan darah tinggi setelah kami tanya kebanyakan karena waktu istirahat yang kurang, jadi kami sarankan supaya mereka memperbanyak istirahat, minimal 8 jam sebelum kembali memulai perjalanan,” tutup Bagus.



Pewarta : Farik Fajarwati
penyunting : Bayu Mulya
Copy Editor : Dwi Lindawati
Foto : Farik Fajarwati