5 Kendala yang Dihadapi Penyandang Disabilitas di Tempat Kerja

JawaPos.com – Regulasi saat ini sudah lebih adil dalam memberi kesempatan pada penyandang disabilitas di dunia pendidikan maupun pekerjaan. Penyandang disabilitas terbukti punya kemampuan setara atau bahkan melebihi mereka yang normal.

Penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk dipandang sama di dunia kerja. Meski begitu, di tengah keterbatasan mereka, tetap saja ada tantangan atau kendala yang dihadapi khususnya di tempat kerja.

Dilansir dari Entrepreneur, Selasa (3/12), ada beberapa elemen yang masih mempersulit kaum difabel dalam bekerja. Perusahaan saat ini harus merancang tempat kerja ramah disabilitas sehingga hal itu bisa menjadi dukungan bagi mereka.

 

1. Sarana Infrastruktur
Tantangan terbesar adalah soal sarana infrastruktur yang harus memadai. Misalnya penyandang disabilitas yang kehilangan anggota gerak, memiliki gangguan pengelihatan atau pendengaran, mungkin sulit untuk menggunakan lift, eskalator, atau tangga standar.

Solusinya:

Beri jalan yang lebih landai dengan rel pemandu, meja yang dapat disesuaikan ketinggiannya, tempat istirahat, jalan mudah untuk masuk dan titik naik kendaraan, pintu yang dilengkapi sensor, alat tulis kantor yang disesuaikan dan berbagai modifikasi lainnya.

 

2. Teknologi
Tantangan lain adalah memahami dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi terbaru dalam organisasi. Misalnya, penyandang tunanetra mungkin menghadapi kesulitan dalam menggunakan layar sentuh atau bahkan mengoperasikan komputer.

Solusinya:

Perangkat lunak khusus seperti pembaca layar atau yang dapat mengubah ucapan menjadi teks bisa lebih solutif. Teks real-time ke konverter braille, pembaca e-Braille, akan membantu mereka.

 

3. Komunikasi
Dalam berinteraksi di dunia kerja pasti membutuhkan komunikasi. Apalagi jika bergerak di bidang jasa. Penyandang disabilitas yang mengalami gangguan bicara bisa diberi jalan keluar.

Solusinya:

Teknologi dapat kembali menyelesaikan masalah ini. Anda akan menemukan aplikasi yang menerjemahkan pengucapan yang tidak dapat dipahami ke bentuk yang dapat dimengerti. Perangkat lunak yang dapat membaca gerakan mata atau isyarat saat ini sudah diciptakan. Atau bisa melalui tulisan untuk memahami mereka.

 

4. Pola pikir
Tantangan terbesar di tempat kerja yaitu menghadapi stigma yang ada di antara rekan kerja. Ketika berhadapan dengan disabilitas, karyawan mungkin cenderung punya sikap merendahkan.

Solusinya:

Edukasi dan kesadaran dalam organisasi adalah solusi untuk situasi seperti itu. Membuat karyawan sadar bahwa disabilitas punya tantangan unik dan mereka istimewa. Sehingga bisa menciptakan suasana kerja yang ramah.

 

5. Penilaian
Organisasi yang mempekerjakan penyandang disabilitas tetap menilai profil pekerjaan atau hasil kinerja. Harus ada standar penilaian yang berbeda dengan karyawan lainnya.

Solusinya:

Kuncinya ada pada kepemimpinan. Memahami apa artinya tempat kerja inklusif akan bijaksana bagi mereka. Sebab setiap orang memiliki kemampuan yang unik dan ciri khas masing-masing.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani