400 Napi Jadi Santri, Ini Rahasianya

MALANG KOTA – Bulan suci Ramadan dimanfaatkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) untuk meresmikan pondok pesantren (ponpes) di area lembaga pemasyarakatan (lapas) Klas I Lowokwaru, Malang. Peresmian itu dilakukan langsung oleh Menkum HAM RI Yasonna Laoly.

MALANG KOTA – Bulan suci Ramadan dimanfaatkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) untuk meresmikan pondok pesantren (ponpes) di area lembaga pemasyarakatan (lapas) Klas I Lowokwaru, Malang. Peresmian itu dilakukan langsung oleh Menkum HAM RI Yasonna Laoly.

Di sela-sela peresmian kemarin (5/6), Yasonna memanfaatkan momen tersebut untuk memotivasi narapidana (napi) yang bakal menjadi santri di ponpes tersebut. Harapannya, para napi tersebut menjadi lebih baik. ”Pembangunan pesantren ini merupakan hal positif,” ujar Yasonna.

Dengan pendekatan keimanan di ponpes, Yasonna berharap ”santri” penghuni ponpes At Taubah itu menjadi manusia yang berguna saat bebas nanti. ”Dengan program pesantren ini, para tahanan bisa mempunyai perspektif yang berbeda untuk memperbaiki diri. Siapa tahu setelah keluar ada yang jadi ustad,” kata Yasonna.

Kepala Pengamanan Lapas Klas 1 Lowokwaru Malang Sarwito menyatakan, hanya 400 napi yang bisa menjadi santri di ponpes tersebut. Sebab, untuk menjadi penghuni ponpes tidak bisa sembarangan. ”Yang masuk pondok pesantren sebelumnya sudah lolos proses assessment oleh petugas,” kata Sarwito.

Beberapa kualifikasi yang harus dilewati adalah rajin salat berjamaah dan bisa mengaji. ”Mayoritas yang menjadi santri adalah narapidana kasus narkoba, dan mereka relatif lebih lama masa penahanannya,” bebernya.



Pewarta: Daviq Umar
Fotografer: Bayu Eka Novanta
Editor: Mahmudan