40 WNA Tak Berizin Diamankan di Semarang

JawaPos.com – Sebanyak 40 orang warga negara asing (WNA) yang diduga memiliki masalah izin tinggal diamankan Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. Dari puluhan orang tersebut, beberapa di antaranya ternyata merupakan buron di negara asalnya.

Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah, Ramli HS menyebut, puluhan WNA ini diamankan di sebuah rumah elit. Tepatnya, di kawasan Puri Anjasmoro Blok M2 Nomor 11, Kelurahan Tawangsari Kecamatan Semarang Barat, Kamis (18/4).

Ramli menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan usai adanya pengintaian terhadap aktivitas para penghuni rumah tersebut sebulan terakhir. “Setelahnya kita ketahui dari puluhan itu hanya 11 orang Taiwan yang memiliki identitas berupa paspor, 1 orang memiliki Kitas yang sudah tidak berlaku. Sisanya tidak ada,” kata Ramli saat jumpa pers di Rumah Detensi Imigran (Rudenim), Senin (22/4).

Ramli membeberkan, dari 40 WNA yang diciduk ini, ada 12 orang yang berasal dari Taiwan. Sedangkan sisanya, merupakan warga Tiongkok.

Sebanyak 40 orang warga negara asing (WNA) yang diduga memiliki masalah izin tinggal diamankan Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)



Saat penggerebekan itu pula, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Karena didapati sebuah aktivitas mencurigakan pula di sini. “Saat penangkapan tersebut, kami melihat ada banyak alat elektronik yang juga tersambung dengan perangkat internet sehingga kami duga ada tindak pidana di sini,” tambahnya.

Melalui pendalaman, diketahui sebelas orang dari para WNA ini ternyata juga masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) di negaranya. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan Interpol. Untuk tindak pidana Cyber-nya, dia melakukan penipuan dengan target di China (Tiongkok) atau Taiwan. Ini kami serahkan ke Interpol dan pihak Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus),” tandasnya.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Agus Triatmadja sementara menambahkan, berdasarkan pendalaman oleh jajaran Ditkrimsus, didapati bentuk tindak pidana yang dilakukan belasan WNA tadi. Modusnya, mirip apa yang marak di Indonesia.

Mereka bekerja dengan menghubungi korban untuk kemudian memberitahukan target dalam pengawasan. Menyebut sasarannya terlibat dalam suatu tindak pidana, lalu menunjukkan surat resmi dari penegak hukum. Kata Agus, masing-masing WNA ini memiliki perannya sendiri-sendiri.

“Modus operandinya sendiri mereka melakukan penipuan berupa Panggilan telepon dengan fasilitas Voice Over Internet Protocol (VOIP) dan menggunakan aplikasi Skype,” jelasnya.

“Mereka ini dapat data pemilik nomor telepon target yang ada di Taiwan dan China secara ilegal,” tambah dia.

Bersamaan dengan ini, sejumlah barang bukti turut diamankan. Antara lain, telepon kabel, router, beberapa unit PC yang kesemuanya diduga digunakan untuk melancarkan aksi mereka.

Atas perbuatannya, puluhan WNA ini terjerat dengan Pasal 28 ayat (1) UU nomor 11/2008 tentang ITE. Dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun kurungan dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Tunggul Kumoro