33 Penghuni Lapas Lulus Jadi Ustad

Para santri Ponpes At-Taubah ketika diwisuda di dalam Lapas Lowokwaru kemarin (20/2).

MALANG KOTA – Kesan jika lingkungan Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) bak ”neraka” bagi penghuninya sedikit terbantahkan. Lihat saja di Lapas Kelas 1 Lowokwaru, Kota Malang, ini. Di sana, suasananya justru seperti di dalam pesantren. Ya, di dalam lapas itu memang ada pesantren. Namanya Ponpes (Pondok Pesantren) At-Taubah. Santrinya juga para penghuni lapas.

Kemarin (20/2), ada 33 santri Ponpes At-Taubah telah menjalani wisuda. Mereka dianggap telah lulus menyelesaikan seluruh materi ngaji yang diasuh Ustad Muhammad Badrus. Saat wisuda kemarin, mereka juga diuji langsung oleh Ustad Muhammad Badrus untuk membaca Alquran secara fasih di hadapan napi dan para undangan. Sebanyak 33 santri tersebut juga otomatis bergelar ustad. Sebab mulai hari ini (21/2), mereka resmi ditunjuk sebagai guru mengaji bagi sesama penghuni lapas.

”Setelah ini yang lulus dari program baca tulis Alquran akan membantu mengajar di blok pesantren,” terang Kalapas Kelas 1 Lowokwaru Malang Krismono kepada Jawa Pos Radar Malang.

Menurut dia, tidak semua penghuni lapas bisa masuk jadi santri di ponpes tersebut. Ada proses seleksinya. Salah satunya melalui tes kejiwaan. Dari sekitar 2.500 penghuni lapas, hanya 251 orang yang bisa menjadi santri Ponpes At-Taubah.

Krismono menambahkan, pesantren ini didirikan untuk meringankan pembinaan dan penguatan mental maupun kerohanian penghuni lapas. Harapannya, ketika bebas dari lapas, mereka bisa diterima masyarakat dengan perubahan positifnya.



Sementara itu, Ustad Muhammad Badrus, pengasuh Ponpes At-Taubah, menjelaskan, 33 santri dinyatakan lulus karena mampu membaca Alquran dengan benar. Bacaan tartil dan tajwidnya juga bagus. Karena itu, dia memiliki harapan, para santri itu nantinya bisa menjadi penghafal Alquran atau dai.

”Keluar dari sini, (mereka) langsung bisa mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat,” imbuhnya.

Dia menambahkan, untuk pengajaran ilmu keagamaan dilaksanakan hari Senin, Rabu, dan Jumat. Sedangkan khusus pembelajaran ilmu Alquran yaitu Selasa dan Kamis.

Usai diwisuda, Husnan, 37, napi asal Probolinggo, ini mengaku senang bisa menjadi santri dan dinyatakan lulus dari Ponpes At-Taubat. Jadi, sekarang dia diberikan tugas untuk mengajar menjadi guru ngaji untuk napi lain.

”Saya ingin jadi orang lebih baik, Mas. Semoga istikamah hingga keluar dari sini (lapas, Red),” ujar pria yang tersandung kasus pembunuhan ini.

Pewarta: NR1
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: NR1