25 Hari, Popularitas Puti Meningkat 30 persen

25 Hari, Popularitas Puti Meningkat 30 persen

Gus Ipul saat berada di ponpes Lirboyo, Kediri
(Tim Media Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno)

RADAR MALANG ONLINE – Pasangan bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur Jatim Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno menyambangi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Selasa (6/2).

Pada kesempatan itu, Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf menyinggung soal kemantapan hatinya berpasangan dengan Puti. Meski terbilang majunya Puti serba mendadak, menggantikan posisi Abdullah Azwar Anas yang mundur dari pencalonan, menurut Gus Ipul, pengusungan dirinya dengan Puti bak suratan takdir.

Di depan para kiai sepuh dan para santri ponpes Lirboyo, Gus Ipul menyampaikan bahwa pergantian pendampingnya untuk maju Pilkada Jatim diresponnya secara positif. Masuknya Puti menggantikan Anas terbukti semakin memperkuat posisi dirinya di Pilgub Jatim. Meski awalnya belum banyak yang tahu, popularitas Puti justru terus meroket.



“Saya kagum dengan Mbak Puti. Hanya dalam waktu 25 hari. Popularitasnya tembus 30 persen. Saya saja bertahun-tahun belum tentu bisa seperti itu,” ucap Gus Ipul.

Pria kelahiran Pasuruan itu melanjutkan, duetnya dengan Puti Guntur Soekarno adalah pilihan yang terbaik. Puti adalah sosok yang rendah hati, terbuka, dan intelektual. Dia lama menjadi anggota DPR RI selama dua periode. 

Puti Guntur Soekarno saat berada di ponpes Lirboyo, Kediri
(Tim Media Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno)

Gus Ipul juga memaparkan soal duetnya dengan Soekarwo (Pakde Karwo) selama memimpin Jawa Timur dua periode. Keduanya mampu menurunkan angka kemiskinan, mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, dan angka pengangguran di bawah rata-rata nasional. “Tapi itu belum cukup. Masih banyak yang harus diselesaikan,” ucap mantan Ketua Umum GP Ansor itu.

Sementara itu, Puti mengakui bahwa dirinya selama ini lebih banyak di Jakarta daripada di Jawa Timur. Tapi, dirinya merasa terpanggil untuk mengabdi di tanah yang melahirkan dan menjadi peristirahatan terakhir sang kakek, Soekarno.

Alumnus Universitas Indonesia itu menceritakan, kakeknya dulu kerap berdialog dengan para kiai untuk menentukan keputusan-keputusan negara. Hal itulah yang coba ingin kembali dirintis olehnya.

“Saya akan merintis kembali apa yang sudah dicontohkan kakek saya. Terimalah saya sebagai bagian dari warga Jawa Timur,” tutur Puti.


(did/JPC)