23 Sketsa Bergerak Mejeng Di Hotel Tugu Malang

KOTA MALANG – Perkembangan dunia digital membuat pekerja seni makin kreatif dan unik. Doddy Hernanto misalnya, ia memadukan karya sketsa dengan aplikasi pada ponsel sehingga menghasilkan karya seni yang indah. Hari ini (5/5), Doddy memamerkan 23 karya sketsa bergerak di Tugu Tea House, Hotel Tugu Malang.

Karya pria yang memiliki nama beken Mr. D ini memanfaatkan teknologi untuk membantu penikmat seni mengartikan sejumlah sketsanya. Sudah ada 110 sketsa yang dibuat di media kertas hitam berkarbon dan menggunakan pensil putih ini. Namun hanya 23 yang dipamerkan di Hotel Tugu Malang hari ini, dan semuanya dapat hidup di layar gadget ketika dilihat menggunakan sebuah aplikasi bernama Snapcard.

“Sebenarnya ide ini berawal dari keprihatinan saya melihat banyak pelukis yang sering diintervensi kurator. Padahal seniman yang membuat lebih tau apa pesan atau makna dari lukisan yang ia buat. Nah menggunakan aplikasi yang bernama Snapcard ini penikmat seni bisa mengetahui langsung apa sih maksud seniman dalam sketsa tersebut,” terang pria berambut gondrong ini.

Aplikasinya yang sudah meluncur di play store sejak 2017 tersebut merupakan ciptaan kawan Mr.D yang berada di Semarang. Cara kerjanya cukup mudah, setelah mendownload dan registrasi, pengguna bisa langsung membuka jendela scan lalu arahkan pada sketsa yang dituju. Tara! Dan sketsa-sketsa tersebut akan hidup. Diantaranya ada sketsa singa yang ketika di scan keluar logo Arema FC, ada pula gambar Soekarno yang bisa hidup saat discan.

Salah satu penikmat seni Mr. D adalah Redy Eko Prasetyo. Founder Kampung Cempluk ini kepada radarmalang.id mengatakan bahwa terobosan Mr. D mampu menciptakan value yang lebih dalam sebuah hasil seni lukis atau sketsa. Tools yang berupa aplikasi ini harus diapresiasi dan terus dikembangkan.

“Meski Mr.D ini basisnya musisi tapi dia hebat bisa membuat ini. Sebuah karya seni sekarang harus bersinergi. Nggak bisa tuh lukisan sendiri, musik sendiri, teknologi sendiri, harus ada integrasi untuk menciptakan konvegerensi seni yang universal,” beber dosen Universitas Brawijaya ini.

Redy berharap gabungan seni dan teknologi ini ke depan mampu menjadi tren membangun ruang yang disajikan melalui artistik lebih maju lagi. Sehingga kedepannya sebuah karya tidak hanya dinarasikan, tapi bisa hidup divisualisasikan menggunakan teknologi untuk bercerita lebih dalam dan menarik.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Rida Ayu
Penyunting: Fia