2019, Tes SBMPTN 100 Persen Online

MALANG KOTA – Ada banyak perubahan dalam seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) tahun depan. Berdasarkan rilis dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) kemarin (22/10), perubahan tersebut cukup merata, mulai dari cara ujian hingga waktu pelaksanaan ujian.

Salah satu yang paling krusial adalah, ujian tes berbasis cetak ditiadakan. Sebagai gantinya adalah ujian tulis berbasis komputer (UTBK). Selain itu, materi tes juga berubah. Jika di tahun-tahun sebelumnya ada tes kompetensi dasar (TKD) dan tes potensi akademik (TPA), pada tahun ini TKD yang berisi soal-soal sejarah, matematika, dan bahasa rencananya akan dihapuskan.

Tes tersebut diganti tes potensi skolastik (TPS). Tes ini untuk mengukur tingkat kognitif atau kemampuan berpikir para peserta. Meski belum diketahui secara pasti model soalnya, melalui siaran pers, Kemenristekdikti menjamin tes TPS memiliki bobot soal yang berbeda dari TKD.

Selain materi tes, perubahan paling mencolok, yakni peserta tes diizinkan melaksanakan tes UTBK selama dua kali. Semisal, ketika calon mahasiswa gagal dalam tes SBM PTN pertama, maka bisa mengulang di tes kedua. Padahal, di tahun sebelumnya, jika gagal, para peserta SBM PTN langsung diarahkan mendaftar tes jalur mandiri. Sedangkan untuk kuota, total ada 20 persen untuk SNM PTN, 40 persen SBM PTN, dan 30 persen untuk seleksi mandiri.

Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Rofi’uddin MPd menanggapi, untuk UM, pihaknya siap melaksanakan ujian tes berbasis komputer (UTBK). Ini karena infrastruktur berupa komputer sudah lengkap. ”Sudah dianggarkan pada tahun-tahun sebelumnya mengenai jumlah komputer,” kata dia.



Selain itu, mantan wakil rektor II ini menjelaskan, jumlah pelaksanaan tes tidak lagi dilaksanakan dalam waktu minimal lima hari. ”Tahun depan tesnya memakan waktu 12 hari, sehari dua kali tes,” kata dia.

Uniknya, tes hanya dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu. Dengan demikian, tes ini tidak dilakukan secara terus-menerus selama 12 hari. Selain itu, tes itu sifatnya bergelombang. Jadi, setiap pendaftar tidak mengikuti 12 hari tes secara keseluruhan.

Rofi’uddin melanjutkan, cara ini dilakukan Kemenristekdikti untuk mengurai kemacetan di beberapa wilayah ujian. ”Terutama di Malang, setiap tahun ada puluhan ribu peserta yang cukup memadatkan jalan,” kata dia.

Bagi Rofi’uddin, sebenarnya tidak ada perubahan yang sangat jauh antara tes tahun ini dengan tahun depan. ”Perubahan ini dimaksudkan untuk merapikan sistematika dan sebisa mungkin mendapatkan hasil yang signifikan dari peserta tes,” kata Rofi’uddin. Ditanya, apakah aturan baru ini cukup ruwet, Rofi’uddin menegaskan tidak sama sekali.

Sementara Wakil Rektor I UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Dr Zainuddin menambahkan, aturan anyar terkait seleksi masuk perguruan tinggi 2019, panitia lokal (panlok) tak lagi mengatur keseluruhan penyelenggaraan tes. ”Semua diatur melalui Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT),” kata dia.

Lebih lanjut, LTMPT mengatur sebagian besar pelaksanaan tes komputer. Sementara kampus, hanya mengatur sebagian kecil pelaksanaan tes. ”Nanti kita lihat dulu, apakah aturan ini sukses diterapkan atau perlu dievaluasi,” kata dia.

Selain itu, untuk UTBK, Heru menyatakan, bisa saja ada aplikasi atau web ujian berpotensi error. Dia menyatakan, mulai saat ini akan terus dikoordinasikan lebih lanjut oleh tim Kemenristekditi. ”Biar tidak error web-nya kalau digunakan tes,” pungkasnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy editor : Amalia Safitri
Penyunting : Irham Thoriq