2019 Diprediksi Musim Paceklik Guru Besar

MALANG KOTA – Tahun 2019 bakal menjadi musim paceklik bagi kampus untuk memanen guru besar (gubes). Sekuat-kuatnya kampus menggenjot pertambahan guru besar tahun ini, masih kalah dengan jumlah gubes pensiun yang meningkat tajam.

Di Universitas Brawijaya (UB), pada awal 2019 memang ada empat gubes baru yang dilantik. Meski angkanya bertambah dibanding Januari 2018, Rektor UB Prof Ir Nuhfil Hanani menyatakan, jumlah yang ada saat ini belum ideal. ”Kalau merunut idealnya guru besar, satu kampus itu minimal 20 persen dari jumlah dosen adalah guru besar,” ujarnya saat dihubungi kemarin (30/1).

Dari 2.000 dosen, maka idealnya UB harus memiliki guru besar sebanyak 400 orang. UB pun sudah menambah program dan anggaran gubes. ”Tapi seret kali ini. Masih punya 134-an. Banyak yang pensiun daripada yang baru,” kata dia. Biasanya, masalah sulitnya kampus menaikkan guru besar rata-rata dipengaruhi faktor pendanaan dan program pendukung percepatan gubes. Karena itu, kampus berlomba-lomba menaikkan anggaran dan program pendukung untuk percepatan gubes. Nyatanya, hal tersebut masih kalah dengan jumlah gubes yang pensiun.

Nuhfil tidak mengetahui secara rinci berapa gubes yang pensiun. ”Bisa saja lebih dari lima atau sepuluh lho,” kata dia. Itu cukup menyulitkan. Sebab, di satu sisi, menaikkan partisipasi dosen untuk menjadi gubes juga cukup memakan waktu lama. Rencana, ada lima hingga sepuluh gubes yang dinaikkan. Dia pun berencana membuat skema rasio gubes yang baru dengan menghitung berapa banyak gubes yang pensiun. Misalnya, 2019 ada lima gubes yang pensiun, sedangkan yang baru dilantik hanya tiga gubes. Mengapa jumlahnya tidak sebanding? Lantaran menyamakan porsi antara gubes yang pensiun dengan yang baru terkendala dari segi waktu.

Sementara di Universitas Negeri Malang (UM), pensiunan gubes yang turun drastis juga menjadi sorotan Rektor UM Prof Ir Rofi’uddin. Tahun ini, ada 15 guru besar yang pensiun. ”Dari total 1.061 dosen (UM, Red) yang ada saat ini, baru 78 gubes yang kami miliki,” ujarnya.

Mau tak mau, sulit bagi perguruan tinggi negeri (PTN) di Malang untuk memenuhi rasio gubes. ”Ya ini menjadi tantangan kita bersama. Kalau tidak ada kontestasi atau reward, sulit mengerek jumlah gubes,” katanya. Saat ini pihaknya terus mendorong dosen berusia di bawah 40 tahun agar mulai merancang proposal untuk menjadi gubes. Karena kalau dilakukan di usia 60 hingga 65 tahun seakan menjadi percuma. Sebab, hanya tersisa lima tahun saja gubes ini berkarya. ”Pensiunnya kan usia 70 tahun,” tambah Rofi’uddin.

Bahkan untuk dosen non-PNS pun Rofi’uddin memastikan juga menjadi gubes. ”Jelas bisa. Meski non-aparatur sipil negara (ASN), mereka sudah punya nomor induk dosen nasional (NIDN),” tambahnya. Rinciannya, dosen ASN di UM hanya 871 orang. Kemudian dosen non-PNS ada 190 orang.

Pewarta              : Sandra Desi
Copy editor        : Amalia Safitri
Penyunting         : Mardi Sampurna