200 Lilin Merah Besar Diproduksi Untuk Perayaan Imlek

JawaPos.com – Menjelang perayaan tahun baru Imlek 2019, masyarakat keturunan Tionghoa disibukan dengan persiapan ibadah. Mulai dari persiapan lilin merah, lampion, dan ornamen Imlek lainnya untuk menghiasi perayaan tersebut.

Begitu pun kegiatan di Vihara Dharma Ramsi yang tengah sibuk membuat lilin merah dengan ukuran bervariasi. Dari lilin yang sangat besar dengan tinggi 1,70 meter dengan diameter 30 sentimeter atau setara 100 kati, juga ada 50 kati, dan terkecil 25 kati.

Pengelola Vihara Dharma Ramsi, Asikin, 70 menjelaskan pembuatan lilin merah dengan warna merah ini dibuat hanya satu tahun sekali, yakni menjelang Imlek. Persiapan dimulai dari 3 bulan sebelum tahun baru Imlek.

“Kita sudah seperti biasa dari tahun ke tahun, kalau perubahan sih tidak ada memang susah rutinitas tiga bulan sebelum menghadapi Imlek, lilin dibuat sesuai dengan pesanan,” kata Asikin di Vihara Dharma Ramsi, Cibadak, Bandung, Rabu (30/1).




Pembuatan lilin merah besar jelang perayaan Imlek (Siti Fatonah/ JawaPos.com)

Namun untuk Vihara yang berdiri sejak 1954 ini hanya mampu menampung sebanyak 200 lilin dengan tiga ukuran yakni 100 kati, 50 kati, dan 25 kati. Lilin pun dipesan oleh umat yang memang rutin beribadah di Vihara Dharma Ramsi.

“Hanya saat Imlek saja, dan dipesan sesuai dengan kapasitas tempat dan tidak diperjualbelikan jadi kami buat hanya sesuai pesanan untuk di sini,” jelasnya.

Dalam pantauan JawaPos.com, terlihat seorang pegawai bernama Ujang tengah asik mencetak lilin merah besar. Produksi lilin pun terdapat di samping Vihara (area Vihara).

Ujang ini sudah mahir membuat lilin besar, karena sudah lama bekerja di Vihara khusus membuat lilin. Terlihat di lokasi pembuatan ada dua wadah besar berisi cairan lilin merah yang tengah digolakkan selama 3 jam.

Kemudian Ujang ini menciduk cairan lilin panas dimasukan ke dalam cetakan berbahan alumunium sesuai dengan ukuran yang hendak dicetak hingga penuh. Lalu didiamkan selama 3 hari sampai mengering.

Tidak sampai disana, ternyata ada beberapa beberapa proses lainnya. Setelah kering lilin dikeluarkan dari cetakan dan dipasang di tiang besi satu persatu untuk kembali disiram cairan panas agar lilin mengkilap. Proses itu pun dilakukan beberapa kali hingga benar-benar mengkilap.

Lilin yang sudah mengkilap, lalu dicap sesuai nama yang dipesan menggunakan tulisan Mandarin atau Pinyin oleh pegawai lainnya. Cap lilin pun menggunakan warna emas sehingga ornamen Imlek sangat kental.

“Jadi prosesnya ya lilin dipanaskan dulu selama tiga jam, dicetak tiga hari sampai kering, lalu disiram biar mengkilap baru dicap dan dikemas,” kata Ujang disela-sela kegiatan membuat Lilin di Vihara Dharma Ramsi, Bandung, Rabu (30/1).

Terlihat, semua pegawai begitu sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ratusan lilin tersebar dibeberapa sudut Vihara. Bahkan lampion pun tengah di bersihkan oleh pegawai.

Editor           : Bintang Pradewo

Reporter      : Siti Fatonah