2.610 Siswa Gagal Masuk SMPN

MALANG KOTA – Hari terakhir pendaftaran PPDB SMP kemarin (22/5), ratusan orang tua siswa ngeluruk ke kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang. Mereka mempertanyakan kenapa data pendaftar yang ter-input di web penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi tidak sesuai fakta. Misalnya jarak rumah pendaftar dengan sekolah yang dituju kurang dari 1 kilometer, tapi dalam web tertulis lebih dari 4 kilometer.

Akibatnya, ratusan pendaftar itu kehilangan kesempatan untuk diterima. Sebab, semakin dekat jarak rumah pendaftar dengan sekolah yang dituju, peluang diterimanya semakin besar. Sebaliknya, semakin jauh jarak rumah dengan sekolah, makin besar kemungkinan kegagalannya. Apakah kesalahan data itu ada unsur kesengajaan? Ataukah ini modus untuk meloloskan sejumlah pendaftar dengan imbalan uang?

9.197 Pendaftar Berebut 6.587 Kursi SMPN

Dari 9.197 pendaftar yang log in di web PPDB SMP, hanya 6.587 siswa yang bakal diterima. Sisanya sekitar 2.610 siswa diperkirakan gagal masuk SMPN di Kota Malang. Bisa jadi, persaingan inilah yang memicu celah ”permainan” oknum tidak bertanggung jawab. Tapi, kepastian siapa saja siswa yang lolos akan diumumkan disdik hari ini (23/5).

Yuli, salah satu orang tua siswa asal Sukun itu, menegaskan, dia mendaftarkan anaknya untuk memilih SMPN 19. Jarak rumahnya dengan SMPN 19 sekitar 900 meter. Hal itu diketahui setelah dia membuka Google Maps. Tapi, saat menerima print out pendaftaran dari panitia, jarak antara rumahnya dengan sekolah tujuan berubah. ”Kok jaraknya tertulis menjadi empat kilometer,” keluhnya.

”Rumah saya ada di Simpang Sukun, RT 2, RW 4. Nah, dari sekolah pilihan pertama, yakni SMPN 19 itu awalnya 900 meter tiba-tiba berubah menjadi 4.552 meter. Terus di dua sekolah pilihan lainnya, juga tercantum 4.000 meter,” tambahnya.

Karena hasilnya berbeda, Yuli mengaku sempat mengecek ke SMPN 19, tempat dia mendaftar PPDB. Tapi, karena SMPN 19 tidak punya kewenangan mengubah jarak, maka panitia memintanya pergi ke kantor disdik untuk mengklarifikasi jarak sesungguhnya.

Selain Yuli, ada sekitar 20 wali murid lain juga ngeluruk ke kantor disdik. Rombongan wali murid SDN Bumiayu 3 yang ikut mengantre pembetulan berkas PPDB itu didampingi guru kelas mereka juga hendak mempertanyakan perubahan jarak.

Supiatin, salah satu orang tua, juga dibuat pusing dengan perubahan jarak rumahnya dengan sekolah tujuan. ”Rumah saya satu alamat dengan SMPN 10, di Jalan Mayjen Sungkono. Seharusnya masuk dan diterima di SMPN 10. Saya tanya panitia, katanya saya salah nulis,” keluh Supiatin.

Di formulir PPDB, tertulis alamat Supiatin di Mayjen Sungkono VI, RT 7, RW 1, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang. Menurut panitia yang ditemui Supiatin, kesalahan Supiatin adalah tidak mencantumkan nomor rumah sehingga maps di dalam web PPDB tidak akurat mendata rumah Supiatin.

Supiatin tidak percaya dengan alasan panitia sehingga dia mengecek ke wali murid lain yang tinggal di satu kawasan dengan dia. ”Lha ini terus gimana? Kok kami dilempar sana-sini? Saat kami protes di SMPN 10, panitia nyuruh kami mbangun rumah di depan gerbang SMPN 10 saja biar terdata. Lha kan lucu?” ujarnya dengan mimik wajah yang tegas.

Akibat jarak rumahnya bergeser makin jauh, peringkat anak Supiatin juga ikut tergeser. Mulanya, anaknya berada di urutan 100, kemudian merosot di posisi 301. Berdasarkan urutan itu, diperkirakan anaknya gagal masuk SMPN 10. Sebab, kuota SMPN 10 di PPDB jalur zonasi ini hanya 265 kursi.

Sementara itu, guru kelas VI SD Bumiayu 3 Gunawan yang ikut mendampingi para wali murid itu sudah mengklarifikasi kepada banyak pihak. ”Kok kaya saling lempar. Saya ke SMPN 10, disuruh ke dispendukcapil. Ya, dispendukcapil bilang bukan mereka yang mengurus, makanya kami ke disdik,” ujar Gunawan.

Kadisdik Sebut Orang Tua Siswa Tak Lengkap Input Data

Wartawan koran ini sempat mengonfirmasi perubahan jarak rumah ratusan orang tua siswa kepada dispendukcapil. Namun, Sekretaris Dispendukcapil Kota Malang Slamet Utomo menyatakan, pihaknya tidak ikut campur pengukuran jarak rumah pendaftar dengan sekolah yang dituju. ”Urusan kami hanya terkait perpindahan KK dan KTP saja,” jawab Slamet.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Malang Dra Zubaidah MM menyatakan, perubahan jarak rumah dengan sekolah karena pendaftar tidak mengecek kesesuaian dengan kartu keluarga (KK). ”Kalau rumahnya di gang, tetap ada nomor rumah dicantumkan. Lha mereka ini cuma nyantumin gang-nya saja. Jelas Google Maps web kami tidak bisa mendeteksi,” jawab Zubaidah.

Termasuk, penulisan RT dan RW yang keliru. ”Ada yang menulis RT 8 ditulis RT 008. Itu salah. Ada yang protes, tetangganya jejer (berdekatan) diterima kok dia tidak. Makanya harus cek lagi di KK, alamatnya betul tidak?” jawab dia.

Terkait siswa yang alamatnya salah dan terpaksa tersingkir dari sekolah tujuan, Zubaidah minta tunggu dulu saja hasil resmi PPDB pada hari ini. ”Kalau sudah mengurus jarak yang benar, nanti bisa tetap ikut perankingan jarak. Hasilnya bisa berubah,” jawab dia.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan