18 Tahun Perjuangan Warga Desa Yang Hilang Membuah Hasil

18 Tahun Perjuangan Warga Desa Yang Hilang Membuah Hasil

Ketua FPR Sendi Supardi, menceritakan, berdiri sejak tahun 2000 silam, seluruh anggota organisasinya mencapai 236 orang. Anggota sebanyak itu termasuk warga Ngepreh dan Gotekan. Dua kampung ini masuk kawasan Dusun Pacet Selatan atau hanya berjarak beberapa meter dari kampung Sendi.

Anggota yang banyak, tak bertahan lama. Sekitar tahun 2006-2007, Perhutani melaporkan penyerobotan lahan atas penggunaan lahan di sisi kanan-kiri jalan utama. ’’Karena dipanggil polisi, akhirnya merosot. Dan hanya aktif sekitar 67 orang saja,’’ ujar Pardi.

Kakek tiga cucu yang akrab disapa Mbah Demang ini, menjelaskan, perjuangan anggota FPR tak pernah berhenti. Meski akhirnya hanya tersisa dua orang. Yakni, dirinya dan Sokeh, yang kini ditunjuk warga sebagai carik di kampung ini.

Intervensi tak hanya berupa ancaman pidana. Kata Demang, ia juga berulang-ulang didatangi sejumlah orang di kediamannya dan didesak segera menghentikan perjuangannya. Namun, tekanan demi tekanan yang dialami, tak membuat Pardi gentar. Yang diinginkan hanya mendapat pengakuan dari pemerintah.

Tak pernah mendapat pengakuan dari pemerintah, membuat warga di kampung ini minim sentuhan pembangunan. Yang paling membuat warga gerah, setelah Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP) hendak membangun warung-warung di pinggir jalan sebanyak 40 unit. ’’Itu beberapa tahun lalu,’’ ungkapnya.



Namun, rencana itu tak berjalan. Pejabat di bawahnya tak berani merealisasikan dengan alasan desa tersebut masih sengketa. Pembangunan infrastruktur di perkampungan ini juga tak terurus. Jalanan masih bebatuan tajam dan terjal. Berbeda dengan jalur utama yang sangat mulus dan lebar.

Yang didapatkan warga selama ini, hanyalah sembako. Banyak warga yang mendapatkan sembako rutin tiap tiga bulan sekali. ’’Yang lain tidak ada. Terus apa yang membedakan dengan sembako. Kan, sama-sama dari pemerintah,’’ pungkas Pardi.

(mj/ron/ris/JPR)