161 Balita Gizi Buruk, 7.074 Anak Tumbuh Tak Normal

Bertepatan dengan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada hari ini (28/2), Jawa Pos Radar Malang mengulas balita yang menderita gizi buruk dan stunting (pertumbuhan terhambat) akibat kekurangan gizi. Apa faktor penyebab yang paling mendasar sehingga dalam tiga tahun terakhir ini teridentifikasi 161 balita mengalami gizi buruk dan 7.074 anak tumbuh tidak normal?

Sesuai data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, jumlah balita (bayi di bawah lima tahun) yang menderita gizi buruk merosot dalam waktu tiga tahun terakhir. Sebaliknya, yang teridentifikasi stunting jumlahnya meningkat drastis.

Pada 2016 lalu, dinkes mencatat hanya 3.568 kasus stunting. Pada 2017 sempat merosot menjadi 2.519 kasus, kemudian pada 2018 meningkat tajam jadi 7.074 kasus.

Sementara pasien gizi buruk terdapat 66 balita pada 2016. Pada 2017 menurun menjadi 56 kasus, sedangkan 2018 sekitar 39 kasus. Dengan demikian, jika ditotal sejak 2016–2018 lalu terdapat 161 balita gizi buruk. ”Per Januari 2019 ini tersisa sembilan kasus balita gizi buruk,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr Asih Tri Rachmi saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (27/2).

Daerah mana yang paling banyak penderita gizi buruk? Asih menyatakan, tidak ada kecamatan yang mendominasi. ”Daerah yang terkena gizi buruk ini merata. Tapi, kalau berkaca kasus dulu, didominasi beberapa kecamatan saja. Itu termasuk persebaran stunting,” kata dia.

Menurut Asih, angka penderita gizi buruk di Kota Malang ini tergolong rendah. Untuk nasional, angka balita gizi buruk berkisar 4 persen dari jumlah balita. Sementara di Kota Pendidikan ini tidak sampai satu persen. ”Hanya nol koma sekian,” kata dia.

”Termasuk stunting juga cukup rendah. Secara nasional pada angka 26 persen. Sedangkan stunting di Kota Malang saat ini 20 persen,” tambah pejabat eselon II B Pemerintah Kota (Pemkot) Malang itu.

Meski angka penderita gizi buruk dianggap rendah, tapi dia tetap meminta warga mewaspadainya. Caranya, mengenali gejala gizi buruk. Di antaranya, kondisi anak tampak pucat, kurus, perut cembung, dan kehilangan massa otot pada keempat anggota geraknya. Selain itu, terlihat gelisah, rambutnya mudah tercabut, kusam, kering, dan kulit bersisik (selengkapnya baca grafis).

Asih berkomitmen akan terus menyosialisasikan pentingnya asupan gizi cukup kepada balita. ”Pada seribu hari kehidupan itu, secara terus-menerus harus diperhatikan (asupan gizi),” terangnya.

 Ayah-Ibu Pendek, Anak Tak Harus Pendek

Mantan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang itu menyebut ada kendala ketika menyosialisasikan pencegahan stunting. Menurut dia, pola pikir masyarakat harus diubah. Selama ini, banyak masyarakat yang menganggap bahwa stunting itu dipengaruhi faktor genetik atau keturunan.

”Tidak ada alasan, ketika ayah dan ibunya pendek, anaknya tidak harus pendek,” kata ibu tiga anak itu.

Menurut Asih, anak-anak yang pertumbuhannya lambat bisa ditanggulangi. Misalnya, pemberian asupan nutrisi yang cukup dan rajin berolahraga. ”Anak yang pendek ini bisa ditangani supaya tidak pendek terus,” tuturnya.

Bahaya stunting dan kurang gizi tidak hanya berdampak secara fisik. Tapi, juga berpengaruh terhadap kecerdasan si anak tersebut. ”Ketika kebutuhan gizinya kurang (tidak tercukupi), tidak hanya berdampak pada pertumbuhan tulang. Tapi, pertumbuhan otaknya juga terganggu,” paparnya.

2018, Dinkes Gelontor Dana Rp 6 M

Pada 2018 lalu, pihaknya mengalokasikan anggaran Rp 6 miliar untuk penanganan sekaligus pencegahan gizi buruk. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan biskuit dan susu untuk balita yang malnutrisi. ”Kami punya program pemberian asupan tambahan,” kata dia.

Asih terus memantau kondisi ibu hamil dan menyusui. Sebab, ibu hamil yang kekurangan gizi bisa berdampak terhadap gizi bayi yang dikandung. ”Bisa saja, gizi buruk diakibatkan oleh ibu hamil yang kekurangan gizi. Kami berusaha mencegah dari muaranya,” kata dia. Dia memastikan, selama ini tidak ada kasus balita yang meninggal dunia karena gizi buruk.

Terpisah, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Malang Meifta Eti Winindar menambahkan, 7.074 bayi yang mengalami stunting  terdeteksi di 16 puskesmas. Jumlah terbanyak berada di Kedungkandang, yakni 1.565 balita. Setelah itu disusul Puskesmas Kendalkerep sekitar 702 balita, dan Puskesmas Ciptomulyo sekitar 668 balita.

”Kedungkandang (stunting terbanyak) karena beberapa faktor. Seperti sanitasi yang cenderung minim, pendidikan, maupun faktor daya beli yang relatif rendah,” kata dia.

Dari ribuan balita yang menderita stunting, Meifta menyebut sekitar 14,29 persen atau 4.865 adalah anak masuk kriteria stunting pendek. Sedangkan 6,55 persen atau 2.229 anak dengan kriteria stunting sangat pendek.

Pewarta               : Sandra
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Mahmudan