15 ASN Gugat Cerai Suami, Mayoritas Dipicu Masalah Ekonomi

MALANG KOTA – Angka perceraian aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang masih tinggi. Sepanjang 2017, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) mencatat sebanyak 26 ASN cerai.

Sekitar 15 kasus berupa gugatan dari istri ke suami. Apa yang melatarbelakangi para ASN berani menggugat cerai suaminya?

Kepala BKD Kota Malang Anita Sukmawati menyatakan, masalah keluarga merupakan motif yang kerap menjadi latar belakang perceraian ASN Pemkot Malang. ”Paling banyak yang faktor ekonomi keluarga (yang jadi penyebab perceraian),” ujar Anita kemarin (20/2).

Sementara itu, Kabid Penilaian Kinerja dan Penghargaan BKD Kota Malang Sri Atika W. menambahkan, masalah keluarga biasanya dipicu oleh kekurangan ekonomi. Selain faktor ekonomi, Atika juga menemukan faktor lain, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

”Sebab, selain ekonomi, hanya satu dua saja (kasusnya),” imbunya.



Meski kasus perceraian tahun 2017 terbilang tinggi, tapi angkanya lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2016 lalu, angka kasus perceraian yang menimpa ASN sebanyak 35 berkas.

Artinya, pada 2017 ada penurunan 9 kasus. Di samping itu, pada 2018 ini ada beberapa pengajuan cerai, tapi BKD tidak mengizinkan. ”Kalau yang tahun ini (2018), kami masih proses pembinaan,” terangnya.

Sementara itu, Psikolog Universitas Brawijaya (UB) Cleoputri Yusainy PhD menyatakan, perceraian tidak bisa dilihat dari salah satu sebab saja. Menurutnya, ada banyak faktor yang memicu perceraian. ”Tidak sederhana hanya karena satu masalah sehingga keputusan jadi bulat,” kata dia.

Kepala Jurusan Psikologi UB itu meneyebut, setiap profesi memiliki perilaku berbeda. ASN yang notabene mendapat gaji dari negara sering kali, menurutnya, menjadi sorotan masyarakat. Berbeda dengan petani atau tenaga kerja lain. Perceraian ASN, meski hanya tercatat sedikit, kata Cleo, bisa mendapat sorotan masyarakat.

”Saya kira tidak hanya karena satu kasus lalu ASN memutuskan bercerai. Ada konflik yang memang tidak bisa tersampaikan ke publik,” jelasnya.

Alumnus University of Nottingham, Inggris, itu menyatakan, sejatinya, tuntutan hidup ASN tidak terlalu berat. Dia membandingkan tuntutan ASN dengan petani. Menurut Cleo, petani dituntut menggarap sawah setiap hari. Jika mereka tidak menggarap sawah di hari itu, petani tidak akan makan. Berbeda dengan ASN yang sudah mendapat jatah bulanan dari negara.

”Jikapun masalahnya faktor ekonomi, berarti perencanaan anggaran itu ada yang keliru,” bebernya.

Begitupun, tinggat stres pegawai negara, kata Cleo, bisa dikatakan tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan wiraswasta. Sebab, ASN hanya menjalankan aturan dan bekerja sesuai ketentuan. ”Bedanya dengan yang bukan ASN, tuntutan kerjanya lebih dinamis,” kata dia.

Saat ditanya apakah ada kemungkinan pejabat publik lebih gampang melakukan perselingkuhan, Cleo tidak bisa memastikan. ”Bisa saja. Tapi tidak segampang itu (mengambil kesimpulan selingkuh, Red),” pungkasnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Mahmudan
Copy editor: Arief Rohman
Foto: Falahi Mubarok