14 Rusa Mati Misterius, BBKSDA Turun Gunung

JABUNG – Kematian 14 ekor rusa di Wisata Coban Jahe Minggu lalu (20/1), masih menjadi misteri. Hingga kemarin (21/1), tim gabungan dari Perum Perhutani KPH Malang dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur masih intens mendalaminya. Beberapa langkah pemeriksaan dilakukan secara bersama. Disajikan dalam bentuk pemantauan jejak serta bekas aktivitas di sekitar kandang rusa.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI BKSDA Probolinggo Mamat Rohimat menjelaskan, dugaan awal kematian hewan dengan nama latin Axis-axis tersebut disebabkan gigitan hewan buas. ”Tapi, kami masih belum bisa menyimpulkan, jenis atau satwa apa yang mengakibatkan rusa-rusa di sini mati,” kata dia. Meski begitu, pihaknya memperkirakan jika hewan predator jenis kucing hutan atau macanlah yang berpotensi menjadi pemangsanya.

”Kalau melihat jejak yang ditinggalkan, sebenarnya lebih mirip jejak anjing, tapi kalau kami pelajari dari luka yang dialami rusa, lebih menyerupai gigitan macan,” terang Mamat. Pria asal Nganjuk itu menuturkan, dalam pekan ini pihaknya akan memasang kamera pengintai untuk mengetahui hewan jenis apa yang mengakibatkan kematian rusa totol di Coban Jahe tersebut.

Beranjak dari kasus itu, dia mengimbau kepada masyarakat di sekitar Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, untuk tetap waspada. ”Terutama bagi yang memiliki kandang ternak, kami imbau supaya masyarakat lebih tanggap,” imbuh Mamat. Senada dengan dia, beberapa dugaan awal juga dikantongi petugas Perhutani KPH Malang. ”Kalau melihat jejak yang ditinggalkan, kami pastikan mereka (pemangsa) berkelompok, jumlahnya bisa lebih dari 3 ekor,” terang Asper KBKPH Perhutani KPH Malang Andry Afriyanto Widodo.

Saat ditemukan, seluruh rusa mengalami luka gigitan pada bagian leher dan sebagian lagi mengalami luka robek pada pangkal paha. Dari karakteristik gigitan tersebut, Andry menuturkan bahwa ada kemungkinan sebelum penyerangan ada bangkai hewan lainnya yang tak jauh dari lokasi kandang. Dari 14 rusa yang ada di sana, 12 ekor di antaranya ditemukan mati. Dua di antaranya hilang.

Pewarta               : Farik Fajarwati
Copy Editor         : Dwi Limdawati
Penyunting         : Bayu Mulya
Fotografer          : Perhutani KPH Malang