12 Rusa di Malang Mati Misterius dengan Luka di Leher

JawaPos.com – Belasan rusa yang ditangkarkan di kawasan Coban Jahe, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, mati secara misterius. Total ada 12 rusa tutul yang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, Minggu (20/1).

Tewasnya 12 rusa yang sedang ditangkar tersebut, masih menyisakan misteri. Dari tubuh rusa ditemukan bekas luka, semacam luka gigitan di lehernya.

Menurut Ketua PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid, kejadian mengejutkan ini diketahui Minggu (20/1) pagi, saat penjaga penangkaran akan memberikan makan untuk rusa-rusa tersebut.


Tewasnya 12 rusa yang sedang ditangkar tersebut, masih menyisakan misteri. Dari tubuh rusa ditemukan bekas luka, semacam luka gigitan di lehernya. (Istimewa)


Rosek mengatakan, penjaga tempat penangkaran rusa kaget, saat akan memberi makan rusa-rusa itu, tiba-tiba sudah melihat rusa dalam kondisi mati.

Dia menyebutkan, ada 14 ekor rusa yang ditangkar di kawasan Coba Jahe tersebut. Sebanyak 12 ekor ditemukan mati misterius. “Sementara, dua ekor lagi dinyatakan hilang,” kata Rosek.

Dia mengatakan, masih belum mengetahui penyebab kematian para rusa. Namun, dia memastikan yang membunuh para rusa adalah hewan buas.

Namun, Rosek belum berani memastikan hewan yang memangsa para rusa. Dugaannya adalah anjing liar atau macan tutul. “Di sana memang juga jadi kawasan habitat macan tutul. Karena dekat dengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS),” imbuh Rosek.

Anehnya, Rosek melanjutkan, belasan rusa itu hanya digigit pada bagian leher. Namun pemangsanya tidak memakan dagingnya. “Harusnya dimakan (daging rusa), tapi ini hanya digigit. Makanya masih misterius,” beber dia.

Saat ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengungkap misteri kematian rusa-rusa itu. PROFAUNA juga sudah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim, sebagai instansi yang berwenang menangani masalah satwa liar.

“Bukan rusa dilindungi karena jenis tutul yang asalnya tidak dari Indonesia,” tandasnya.

Editor           : Sari Hardiyanto

Reporter      : Dian Ayu Antika Hapsari