12 Bulan, 111 Bencana, 6 Korban Jiwa

KOTA BATU – Dibandingkan 2017, rekapitulasi jumlah bencana tahun 2018 memang menurun. BPBD Kota Batu mencatat ada 111 kejadian yang berlangsung dalam kurun 12 bulan. Jumlah itu turun sedikit dibanding 2017, saat terjadi 114 bencana. ”Meski turun, kewaspadaan tetap harus ditunjukkan.

Terlebih di musim hujan seperti sekarang,” terang Kepala BPBD Kota Batu Sasmito. Kewaspadaan itu dituangkan BPBD Kota Batu dalam sejumlah program yang sifatnya antisipatif.

Ada satu kegiatan khusus yang dinamakan Sapu Bersih Nyemplung Kali (Saber Pungli). Kegiatan itu adalah hasil kerja bersama dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, dan sejumlah komunitas peduli lingkungan. Aplikasinya, kegiatan itu rutin digelar tiap pekan. ”Kegiatan tersebut (Saber Pungli) kami tujukan untuk meminimalkan potensi banjir di Kota Batu,” sambung Sasmito.

Lebih lanjut, Kasi Kedaruratan dan Logistik  BPBD Kota Batu Achmad Choirur Rochim menjelaskan bila kegiatan di Saber Pungli tidak hanya difokuskan pada bersih-bersih sungai saja. Pembersihan drainase dan rumput liar yang menghalangi jalannya air juga dilakukan. ”Sejauh ini (kegiatan itu) terbilang berhasil menekan potensi banjir di Kota Batu,” kata Rochim. Di sisi lain, dia juga turut memberi sejumlah pemaparan terkait masih tingginya kasus bencana di Kota Batu.

”Tahun 2018 lalu kondisi iklim relatif normal, tidak ada anomali cuaca seperti tahun 2017. Itu membuat potensi bencana lebih menurun,” jelas dia. Dirinci olehnya, kasus bencana yang paling banyak terjadi di Kota Batu adalah tanah longsor.

Total ada 27 kejadian selama 2018. Berikutnya ada 25 kejadian angin kencang dan 14 kasus kebakaran hutan. Ada juga 2 kasus tanah ambles dan dua kasus puting beliung. Berikutnya, ada 16 kejadian darurat nonbencana. Maksudnya yakni ada kejadian pohon tumbang dan dua pendaki tersesat.

Untuk sebaran daerah yang rawan, terbilang merata. Di Kecamatan Batu, tercatat sudah ada 53 kejadian angin kencang dan tanah longsor. Sementara Kecamatan Bumiaji tercatat ada 29 kejadian yang sama. Sedangkan Kecamatan Junrejo menempati rekap paling sedikit, total ada 13 kejadian longsor dan angin kencang di sana sepanjang 2018. ”Potensi memang merata, tapi tahun lalu kejadian bencana paling banyak memang ada di Kecamatan Batu,” imbuh Rochim.

Dari hasil rekap tahunan yang dilakukan BPBD Kota Batu, diketahui pula beberapa dampak dari rentetan bencana. Tercatat ada 31 rumah yang rusak karena banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Selain itu, ada 39 infrastruktur yang harus mendapat pembenahan. Berikutnya ada 20 tempat usaha ekonomi produktif yang turut menjadi korban bencana. ”Untuk korban jiwa, tahun lalu ada 6 orang meninggal, 3 luka-luka, dan 19 warga harus mengungsi,” kata Rochim. Dia berharap kewaspadaan di tahun ini bisa ditingkatkan, sehingga dampak dari bencana bisa diminimalisasi.

Pewarta               : Mochamad Sadheli
Copy Editor          : Amalia Safitri
Penyunting          : Bayu Mulya
Fotografi              : BPDB Kota Batu