MALANG KOTA – Persaingan antarsekolah sudah mulai terasa dalam ajang Green School Festival (GSF) 2018 yang digelar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang. Dalam ajang workshop lomba kreativitas lingkungan (eco park school) untuk jenjang SMP di Hotel Aria Gajayana, kemarin (15/8) para perwakilan sekolah sudah mulai adu ketangkasan dalam memetakan masalah.

Untuk diketahui, acara workshop ini merupakan rangkaian dari GSF 2018. Kemarin, total ada 104 SMP negeri dan swasta yang mengikuti acara ini. Masing-masing sekolah diwakilkan seorang guru dan seorang murid. Semua peserta dibagi ke dalam empat grup besar. Masing-masing grup besar, dipecah lagi ke dalam sembilan kelompok kecil.

Nah, kesembilan kelompok kecil inilah yang diberi satu isu yang tercantum dalam penilaian GSF. Tugas kelompok tersebut untuk mencari masalah sekaligus solusinya dari isu GSF. Isu itu adalah literasi teknologi informasi, unit kesehatan sekolah (UKS), kantin sehat, risiko, tanaman hijau, air dan limbah cair, energi, sampah dan polusi, serta peta umum sekolah.

Karena kemarin adalah simulasi, masing-masing kelompok mencoba mencari masalah yang ada di Hotel Aria Gajayana. Maka masing-masing kelompok diberi peta Hotel Aria Gajayana, satu kertas ukuran A3, dan beberapa sticky notes. Tujuannya, mereka menciptakan mading yang menampilkan hasil pemetaan kelompoknya.

Diberi waktu sekitar satu jam, semua kelompok saling berlarian menuju hall hotel. Salah satunya Zalsa Rahmawati, siswi SMP Sriwedari, yang kebagian isu sampah dan polusi. ”Kelompok kami tadi (kemarin) menyisir kolam ikan, masih banyak puntung rokok dan bekas makanan dibuang di pot tanaman,” ucap siswi kelas VIII ini dengan gemas. Solusinya, dia dan timnya menuliskan poster imbauan membuang sampah pada tempatnya dan menyediakan satu tempat sampah kecil. Totalnya, kelompok ini berhasil mendapatkan enam masalah di dalam hotel tersebut.

Sedangkan para guru diminta menjadi pendamping kelompok. Nantinya, setiap kelompok yang sudah mengidentifikasi digabung dalam kelompok besar. Nah, dari kelompok besar inilah akan dijadikan best concept atau konsep terbaik. ”Output-nya jadi contoh bagi setiap sekolah. Bagaimana memetakan isu, memetakan solusi, kurang lebih hasil dari simulasi seperti itu,” ucap  guru seni dan kebudayaan SMP Plus Al Kautsar Ahmad Adib Efendi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang Dra Zubaidah MM menyatakan, simulasi ini digelar agar siswa dan guru saling berinovasi. Tujuan utamanya, agar sekolah-sekolah di Kota Malang meraih Adiwiyata. ”Caranya, kami genjot kepedulian lingkungannya, baik secara akademis dan nonakademis,” ujar Zubaidah.

Karena itu, dia tidak ingin kepedulian lingkungan hijau hanya diterapkan di buku-buku saja. Adanya GSF, oleh Zubaidah diibaratkan layaknya mobil. Sebuah mobil tak akan bisa stabil jika semua komponen tidak bekerja dengan baik. ”Nanti akan kami nilai dan evaluasi sekitar lima tahun lagi,” ujar Ida–sapaannya.

Sementara itu, ketua tim juri GSF 2018 Fadhilah Putra PhD menyatakan, simulasi ini untuk mendekatkan para peserta mengenai isu lingkungan seperti apa. ”Sengaja ditempatkan di Hotel Aria Gajayana agar mereka mencoba belajar lebih peka melihat masalah di lapangan,” ujarnya. Kalau di sekolah, mungkin sudah biasa dan hampir setiap hari siswa mudah memetakan isu lingkungan. Kalau simulasi dilakukan di luar sekolah, menurut Fadhilah, bisa merangsang ketangkasan siswa melihat masalah.

Sementara itu, acara workshop akan dilanjutkan hari ini dengan peserta perwakilan siswa dan guru SD negeri dan swasta di Kota Malang. Acara hari ini diprediksi bakal lebih menarik karena pesertanya masih anak-anak.

 

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Ilham Thoriq
Foto: Darmono