10 Orang Meninggal dan 12 Ribu Warga Mengungsi Akibat Banjir Bengkulu

JawaPos.com – Hujan deras yang mengguyur seluruh wilayah Bengkulu menyebabkan bencana banjir dan longsor. Sejauh ini, banjir dan longsor yang menimpa Bengkulu terjadi di 9 Kabupaten/Kota, dengan korban meninggal yang sudah terdata sebanyak 10 orang. Sedangkan 12 ribu warga mengungsi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Kabupaten/Kota yang terdampak banjir dan longsor  antara lain Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur.

“Dampak bencana meluas. Data sementara dampak bencana dari kaji cepat yang dilakukan BPBD Provinsi Bengkulu tercatat 10 orang meninggal dunia, 8 orang hilang, 2 orang luka berat, 2 orang luka ringan, 12.000 orang mengungsi, dan 13.000 jiwa terdampak bencana,” kata Sutopo dalam keterangannya, Minggu (28/4).


Selain merenggut korban jiwa, setidaknya 184 rumah rusak, 4 unit fasilitas pendidikan, 40 titik infrastruktur rusak (jalan, jembatan, oprit, gorong-gorong) yang tersebar di 9 kabupaten/kota, dan 9 lokasi sarana prasarana perikanan dan kelautan rusak yang tersebar di 5 kabupaten/kota. Data dampak bencana ini dapat bertambah mengingt belum semua lokasi bencana dapat dijangkau.

Relawan MRI-ACT mendirikan dapur umum untuk membantu korban banjir di Bengkulu. (ACT for JawaPos.com)

Saat ini, banjir sebagian sudah surut di beberapa wiayah wilayah. Namun banjir masih banyak menggenangi permukiman di beberapa wilayah. Dampak bencana susulan yang berisiko timbul adalah munculnya penyakit kulit dikarenakan minimnya air bersih, gangguan ISPA, dan lain-lain. Selain itu longsor dan banjir dapat berpotensi kembali terjadi jika curah hujan tinggi.

“Penanganan darurat bencana terus dilakukan. Gubernur Bengkulu, Rohodin Mersyah telah memerintahkan seluruh jajaran SKPD di Bengkulu agar mengerahkan potensi yang ada di daerah untuk membantu penanganan darurat bencana,” ucapnya.

Dikatakan, Gubernur Bengkulu juga telah melaporkan dampak bencana kepada Kepala BNPB Doni Monardo. BNPB telah mengirimkan Tim Reaksi Cepat untuk mendampingi BPBD dan memberikan bantuan dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat.

“Kepala daerah yang daerah mengalami bencana dihimbau segara menetapkan status darurat untuk mempercepat penanganan darurat,” imbuh Sutopo.

Ia pun memastikan, Posko Induk di BPBD Provinsi Bengkulu telah didirikan. Tepatnya di Ruang Pusdalops dan mendirikan posko pengungsian di 12 titik lokasi.

“Rapat koordinasi terus dilakukan setiap hari. Penyelamatan, pencarian korban dan evakuasi korban dilakukan dengan menggunakan perahu karet. Dapur umum didirikan dan melaksanakan pendistribusian makanan,” sambungnya.

Menurut Sutopo, perbaikan darurat dilakukan, khususnya untuk mengatasi jalur transportasi dan distribusi bantuan. Untuk mengatasi longsor yang menutup badan jalan pemerintah setempat telah melakukan pembersihan material menggunakan alat berat (escavator). Sedangkan untuk jalan dan jembatan yang putus telah dilakukan survai, pendataan, dan pengamanan dengan memasang rambu peringatan di jalan.

Meski upaya maksimal telah dilakukan, kendala penanganan darurat masih ditemukan. Terutama untuk pendistribusian logistik ke titik-titik banjir dan longsor dikarenakan seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total. Koordinasi dan komunikasi ke Kabupaten/ Kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus.

Padahal banyak kebutuhan mendesak yang dibutuhkan para pengungsi seperti tenda pengungsian, perahu karet, selimut, makanan siap saji, air bersih, family kid, peralatan bayi, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan tenaga relawan.

“BPBD masih melakukan pendataan dampak bencana dan penanganan bencana. Masyarakat dihimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia,” pungkas Sutopo.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Muhammad Ridwan