1 dari 3 Warga Meninggal karena Sakit Jantung

KEPANJEN – Penderita penyakit kardiovaskular di Kabupaten Malang masuk kategori darurat.

Data sampel penelitian yang dikerjakan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) dengan George Institute for Global Health, Australia, mencatat bila satu dari empat orang di Kabupaten Malang menderita gangguan kesehatan kardiovaskular. Gejalanya berupa hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Sementara tiga orang dari empat sampel tersebut juga berisiko tinggi mengalami gangguan jantung.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur Dr dr Kohar Hari Santoso mengungkapkan bila hingga 2015 lalu, penyebab kematian tertinggi masih didominasi penyakit menular dengan skala 56 persen. Sementara 37 persen lainnya karena penyakit tidak menular dan sisanya 7 persen disebabkan kecelakaan.

”Sekarang sebaliknya, angka kematian karena penyakit tidak menular mencapai 57 persen. Disusul kemudian 30 persen karena penyakit tidak menular, dan 13 persen disebabkan kecelakaan,” kata pria yang juga menjabat sebagai Plt Direktur RSSA Malang tersebut.



Di antara penyakit tidak menular yang mendominasi penyebab kematian tersebut, ada penyakit kardiovaskular di dalamnya.

Di sisi lain, Steering Committee Smart Health The University of Manchester Inggris Gindo Tampubolon turut menyampaikan bila penyakit jantung kini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Kabupaten Malang. ”Satu dari tiga orang dewasa meninggal karena penyakit jantung,” kata Gindo.

Bekerja sama dengan George Institute for Global Health, hingga kemarin pihaknya telah memeriksa lebih dari 24 ribu orang di wilayah Kabupaten Malang. Pemeriksaan sampling tersebut dilakukan di empat desa dan kelurahan.

Yakni, Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji; Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi; Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen; dan Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir.

Hasilnya, selain menemukan skala penderita penyakit jantung, Gindo juga menyampaikan bila pihaknya menemukan data terkait tren kenaikan usia penderita penyakit kardiovaskular.

Jika sebelumnya penyakit jantung rata-rata diderita orang di usia 40 tahun ke atas, kini tren tersebut sudah menurun menjadi usia 30 tahun.

”Tren penyakit jantung tidak lagi di usia 40 tahun ke atas, tapi 30 tahun (ke atas) karena sekarang usia 30 sudah punya risiko tinggi juga,” kata dia saat ditemui di ruang kerja bupati Malang.

Penyebabnya, mayoritas karena faktor makanan dan stres. Data Dinkes Kabupaten Malang mencatat bila tahun lalu ada 17.559 warga yang dilaporkan menderita penyakit jantung. Dari total itu, 9.915 di antaranya mengalami penyakit jantung koroner. Sementara 7.644 sisanya mengalami gagal jantung.

Menanggapi kondisi tersebut, Plt Bupati Malang H.M. Sanusi menuturkan bila dia siap memfasilitasi anggaran untuk menekan angka penderita penyakit tidak menular.

”Kami berharap tidak hanya 4 desa saja yang didampingi, tapi seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Malang,” kata dia.

Soal anggaran, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu pun mengaku siap jika harus mengalokasikan biaya tambahan untuk meng-cover kebutuhan obat bagi penderita penyakit tidak menular, baik penyakit kardiovaskular maupun diabetes.

”Anggaran kami ada Rp 4,2 triliun, Rp 1 triliun lebih dialokasikan untuk memenuhi pelayanan dasar, termasuk salah satunya di bidang kesehatan. Pasti cukup,” ujarnya optimistis.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya