Dwi Cahyono, Sosok di Balik Replika Bangunan dan Benda Bersejarah di Jatim Park Group

IMAROTUL IZZAH Siang itu wartawan Jawa Pos Radar Malang disambut putri dari Dwi Cahyono di kediamannya, Jalan Kenanga No 4, Sengkaling. Dia memanggil-manggil ayahnya. Tak lama kemudian, Dwi datang membukakan pintu gerbang.

Masuk ke dalam rumah Dwi seperti memasuki lorong waktu dan kembali ke zaman kuno. Ada banyak benda-benda etnik, seperti patung, arca, tiruan manusia prasejarah, wayang, mainan dakonan, hingga lukisan kuno.

Ketika penulis berbincang dengan Dwi soal sejarah, hal itu sangatlah mengasyikkan. Sebab, banyak pengetahuan di setiap kalimat yang Dwi sampaikan. Entah itu soal sejarah, kehidupan, maupun fenomena sosial.

Kali ini penulis akan membahas mengenai sosok di balik adanya benda-benda budaya di berbagai tempat wisata. Salah satunya Dwi Cahyono yang merupakan pembuat benda-benda budaya, seperti replika candi, arca, rumah kuno, miniatur, diorama (benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan), dan lain-lain.

Dia membuat desain, merancang, mencarikan bahan, hingga memimpin para pekerja (tukang) untuk merealisasikan benda yang akan dia sajikan. Semua itu dia lakukan sebagai sarana untuk pengekspresikan diri dan menjadi media mengajar. Menurut dia, belajar tidak hanya di kelas dan bersama mahasiswa. Belajar bisa di mana pun dengan media apa saja, termasuk di tempat wisata.

Pria yang saat ini berusia 55 tahun ini memang sudah dipercaya Jatim Park (Jawa Timur Park) Group untuk membuat berbagai benda bernilai budaya. Barangkali itu karena dia tidak membuatnya secara asal-asalan. Sebab, itu masih merupakan bidang yang dia kuasai. Di samping berkarya dalam pembuatan benda-benda budaya, dia juga seorang sejarawan dan arkeolog. Saat ini, dia sedang mengajar ilmu sejarah di UM.

”Niat saya yaitu untuk pembelajaran. Pembelajaran dalam arti luas. Yaitu, di luar ruang kelas dan untuk publik. Kebetulan lokasinya di tempat wisata,” terang alumnus Arkeologi UI (Universitas Indonesia) itu.

Pria kelahiran Tulungagung, 28 Juli 1962, ini membuat karya memang bukan karena semata-mata memborong proyek. Ada idealisme yang masih melekat. Ada kemauan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan melalui karya yang dia buat. Maka dari itu, dia sangat memperhatikan detail karyanya. Selain membuat karya dengan detail, tak jarang pula dia membekali para pemandu wisata agar pesan dari benda budaya dan sejarah itu tersampaikan.

”Butuh idealisme karena ini pekerjaan yang mengandung unsur kesenian. Kalau hanya orientasi proyek asal jadi, saya tidak mau. Meskipun ini proyek sebuah bangunan, saya bukanlah pemborong proyek yang asal-asalan mengerjakan karena masih memiliki idealisme.

Sebisa mungkin apa yang saya buat, terutama kalau berkaitan dengan peninggalan budaya, harus menyerupai benda aslinya. Benda itu bukan hanya untuk mengisi ruang, tapi juga sebagai media pembelajaran. Harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tegas alumnus IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Malang itu.

Pengalaman kali pertama dilakukan Dwi pada 2000 silam. Dia membuat miniatur candi dan diorama. Tapi, pada saat itu yang membuat bukan Dwi, dia hanya sebagai rekan kerja. Dia sebagai pendesain, pembuat gambar, dan yang mem-plotting area.

Dalam proses itu, dia mengamati cara kerja rekannya dalam mengeksekusi pembuatan proyek itu. Caranya memimpin tukang, mencarikan dan memilihkan bahan, dan lain-lain. Kala itu Dwi membatin, semestinya kalau membuat begini dia bisa. Sebab, bagaimanapun dia juga lulusan teknik di STM (Sekolah Teknik Menengah) Negeri Tulungagung. Meski bukan di jurusan teknik sipil, sedikit banyak dia mengetahui bidang ini.

Maka pada proyek selanjutnya, dia mengerjakannya sendiri. Kebetulan pada saat itu di WBL (Wisata Bahari Lamongan) di areal Islamic Art Lamongan, dia membuat objek-objek Islam yang berhubungan dengan kewalisangaan dan sebagainya. Yaitu, miniatur duplikatif dengan tema-tema Islam, seperti Kampung Cina, Gerbang Gapura Cina, Kapal Layar Nusantara, Menara Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan Banten, dan lain-lain. Dalam proyek itu, Dwi sudah mengerjakannya sendiri. Dia menggambar desain sendiri, mengarahkan tukang sendiri, bahkan mencari bahannya sendiri.

Selanjutnya, dia terus menggarap proyeknya sendiri. Seperti penambahan benda-benda di Jawa Timur Park 1, yaitu Galeri Etnik Nusantara. Dia membuat diorama indoor, miniatur keraton-keraton Nusantara. Bahkan, dia juga berburu busana etnik hingga ke Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan lain-lain.

Di Museum Angkut pun dia mencarikan angkutan tradisional nonmesin, seperti becak, cikar, gerobak, perahu, hingga kereta. Dalam mencari angkutan itu, dia sampai berburu ke seluruh Jawa, mulai dari Bogor, Jakarta, Cirebon, Semarang, Jogjakarta, Solo, Tulungagung, Madiun, Probolinggo, Situbondo. Tidak hanya di Jawa, cikar dan dokar pun dia cari hingga ke Sumatera.

Nah, tidak jarang kondisi angkutan tradisional itu kondisinya tidak lengkap dan sudah rusak. Seperti cikar kuno yang ditemukan Dwi di Sumatera Barat. Kondisinya rusak jadi dia harus membuat atap baru dengan bentuk yang sama seperti sebelumnya. Ada juga barang-barang yang sudah diminati, tapi tidak boleh dibeli.

Harga-harga angkutan lawas itu sendiri sampai belasan juta rupiah per unit. Harga itu untuk cikar lawas yang dia temukan di Tulungagung (kira-kira di awal 1900). Ketika dia membeli, tentu sesuai harga yang pantas, tidak menawar terlalu murah. Pihak Jatim Park sendiri sudah memercayainya.

Namun, ada satu pekerjaan yang menurutnya ”gila”. Yaitu, di Eco Green Park. Di sana, dia membungkus gedung 3 tingkat menjadi gunung. Di atasnya, dibangun candi siwa dan di sekeliling gunung buatan itu ada belasan candi yang mengelilinginya. Ketika melaksanakan proyek besar, dia memakai banyak tukang, kira-kira saat itu mempekerjakan hampir 40 tukang.

Pekerjaan gila lainnya pada saat di WBL, dia membuat Gua Maharani. Bangunan panjang dia rombak menjadi gua. Di dalamnya, diisi sajian batu-batu yang menggantung di atap. Terdapat air yang mengalir. Dwi bahkan sampai hunting batu-batu mulia untuk mengisi interior gua. Dia juga membuat patung fiber manusia-manusia prasejarah.

Karena dia bukan seorang tukang, Dwi juga tak sembarangan mencari tukang. Dia mempekerjakan tukang khusus, misalkan tukang ahli pahat batu, fiber, kayu, gerabah, dan lain-lain. Dwi sendiri awalnya hanya diberi gambaran kasar bangunan atau benda yang akan dibuat.

Dia sendiri yang memberi detailnya. Entah itu ukuran, bahan, hingga bagaimana gambarnya. Ini nantinya untuk pegangan tukang ketika bekerja. Jadi, dia merancang sendiri, bahkan mencari bahan sendiri. Dia tidak bisa memasrahkan kepada orang lain untuk pekerjaan ini. Sebab, kebanyakan waktu realisasinya tidak seperti yang dia mau. Barangkali memang karena ada pesan edukatif yang ingin dia sampaikan. Juga idealisme yang dia rengkuh. Hingga saat ini pun, dia mengerjakan semuanya sendiri.

Terbaru, Dwi merampungkan menggarap proyek di Jatim Park 3 di kawasan The Legend. Di sana dia menggarap kawasan Majapahit. Dia tampilkan Kerajaan Majapahit. Dia buat dua buah gapura Candi Bentar, Candi Wringin Lawang, dan Gapura Paduraksa Bajang Ratu.

Dia juga membuat Candi Tikus, 3 buah rumah kuno masa Majapahit, belum lagi pernak-perniknya, seperti perabot di dalam rumah dan isian interior masing-masing bangunan. Detailnya ini akan dia garap tanggal 5/1 karena saat ini masih libur. Penggarapan di Jatim Park 3 ini, dia melibatkan 25 orang karena bangunannya besar. ”Gapura paduraksa itu tingginya 12 meter,” terangnya.

Kecintaannya terhadap sejarah sendiri sudah ada sejak dia kecil. Dwi bercerita, bahwa masa kecilnya dengan teman-teman dia isi dengan bermain ke candi karena di asalnya, Tulungagung. Di sana cukup banyak candi. Dia juga senang membaca majalah. ”Waktu masih kecil saya sering membaca majalah dan tertarik tentang laporan jurnalistik mengenai peninggalan arkeologi di Indonesia atau di luar negeri. Kemudian saya kliping,” ujar pria yang memiliki 3 anak itu.

Sayangnya, pada saat SMA, dia masuk ke STM. Dwi sendiri mengakui bahwa dia termasuk siswa yang bodoh pada saat itu. ”Saya dulu termasuk siswa yang bodoh. Tidak suka eksak (ilmu pasti). Meski saya belajar sungguh-sungguh, tapi entah kenapa hasilnya tidak maksimal. Tidak punya bakat di bidang itu meski dipaksa,” kenang alumnus STM (Sekolah Teknik Menengah) Negeri Tulungagung itu.

Nilainya yang bagus malah bukan di eksak, tapi di pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), sejarah, bahasa Indonesia, ilmu yang tidak pasti. Namun, pada saat lulus, ayah Dwi ngotot agar dia masuk ke jurusan teknik. ”Impian Bapak saya ingin semua anaknya jadi insinyur,” ujar alumnus SD Pelandakan 1 Tulungagung tersebut.

Namun, Dwi kemudian berpikir bahwa selama di STM dia tersiksa. Dia tidak mau siksaannya berkepanjangan apabila masuk ke jurusan teknik. Setelah memberi pengertian kepada bapaknya, meski sempat otot-ototan (berdebat), Dwi mengambil jurusan sejarah di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Malang.

Itu bidang yang dia senangi sejak kecil. Di jurusan itu, Dwi sendiri mengaku belum puas. Dia lebih berminat di bidang arkeologi. Karena masih berhubungan dengan sejarah, dia mengambil matakuliah minor itu. Skripsi pun dia ambil dengan tema arkeologis.

”Pada saat itu saya semangat belajar dan dibimbing dosen senior yang sangat baik kepada saya, yaitu (alm) Habib Mustopo, seorang sejarawan top,” ujar Dwi. Setelah lulus, Dwi mengambil S-2 Arkeologi di UI (Universitas Indonesia) dan saat ini mengajar sejarah di UM. (*/c2/lid)